:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Masjid-Gedhe-Kauman-Jogja-Gulirkan-Salat-Tarawih-Perdana-Ramadan-2026-Diikuti-Ribuan-Jemaah.jpg)
Beritainternusa.com,Jogja – Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, melaksanakan salat tarawih perdana, menandai dimulainya rangkaian ibadah bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Selasa (17/2/26) malam.
Pelaksanaan tersebut lebih awal dibandingkan dengan ketetapan pemerintah melalui Kementerian Agama, yang baru memulai awal Ramadan pada hari berikutnya.
Dari pantauan awak media, salat tarawih perdana tersebut diikuti oleh ribuan jemaah yang tampak memenuhi ruang utama masjid bersejarah milik Kraton Ngayogyakarta ini.
H. Ahmad Irfan didapuk sebagai imam, sementara H. Budi Setiawan S.T., selaku Penasihat Takmir Masjid Gedhe Kauman didaulat jadi penceramah menjelang salat tarawih.
Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman, Azman Latif, mengatakan, pihaknya konsisten mengikuti keputusan Muhammadiyah yang memakai kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Konsep tersebut, jelasnya, mengusung prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, layaknya kalender masehi yang berlaku secara internasional.
Nah, Muhammadiyah ini merintis, berdasarkan kesepakatan dari beberapa pakar, cendekiawan, untuk merintis bagaimana supaya Islam ini memiliki kalender yang sama, satu hari satu tanggal,” katanya.
Secara teknis, Azman memaparkan, bahwa posisi hilal terkini sudah dianggap memenuhi syarat karena telah terpantau di wilayah Amerika, tepatnya di Alaska.
Sehingga, sejalan hitungan astronomis, hilal tersebut sudah mencapai ketinggian 5 derajat dengan elongasi 8 derajat (sudut antara bulan dan matahari).
Itu sudah memenuhi untuk bisa dilihat. Maka, dengan demikian, kita sudah memasuki bulan baru, sudah masuk 1 Ramadan,” terangnya.
Karena ketetapan yang cenderung lebih awal, persiapan matang menyambut Ramadan sudah disusun Takmir Masjid Gedhe Kauman sejak jauh-jauh hari.
Menurutnya, jadwal imam, penceramah, hingga menu takjil untuk jemaah sudah diputuskan tanpa perlu menunggu pengumuman hasil sidang isbat pemerintah.
Persiapan kami memang tanggal 18 Februari itu sudah awal Ramadan. Sehingga, malam ini kita mulai salat tarawih dan besok pagi sudah berpuasa,” terangnya.
Terkait adanya potensi perbedaan awal puasa dengan pemerintah maupun ormas Islam lainnya, pihak Takmir Masjid Gedhe Kauman menanggapinya dengan santai.
Ia berpesan agar masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan keyakinan metode penanggalan yang sudah sering terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya.
Saya pikir semakin lama kita itu mestinya memang harus semakin dewasa. Wong dulu saja (berbeda) enggak apa-apa, apalagi sekarang. Perbedaan itu adalah rahmat,” tandasnya.
Jadi, yang mau (puasa) besok silakan, yang mau hari Kamis juga enggak masalah. Wong kepada yang enggak berpuasa saja kita juga enggak apa-apa kok,” tambah Azman, diikuti gelak tawa.
Selain Masjid Gedhe Kauman, Masjid Jogokariyan, Kota Yogyakarta juga terpantau turut menjalankan ibadah salat tarawih perdananya malam ini.
Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Gitta Welly Ariadi, menyampaikan, pihaknya mengacu pada keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, selaras dengan sejarah panjang masjid.
Bangunan utama kita itu kan memang wakaf Muhammadiyah. Sehingga, secara historisnya kan (masjid) Muhammadiyah, begitu,” ungkapnya.
[Admin/tbbin]


