:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tiga-Kamera-Trap-Dipasang-di-Sekitar-Lokasi-Penemuan-Jejak-Macan-di-Gunungkidul.jpg)
Beritainternusa.com,Gunungkidul – Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DI Yogyakarta memasang tiga kamera trap di lokasi penemuan yang diduga jejak macan di Panggul Kulon, Candirejo, Semanu, Gunungkidul.
Kamera trap tersebut dipasang di tiga lokasi yang berbeda pada Selasa (20/1/2026). Kamera trap adalah kamera otomatis yang digunakan untuk memantau satwa atau lingkungan tanpa perlu kehadiran manusia di lokasi.
Kamera ini biasanya dilengkapi sensor gerak (motion sensor) atau sensor panas tubuh, sehingga akan secara otomatis mengambil foto atau video saat ada hewan atau objek yang melewati area pemantauan.
Salah satu titik yang dipasangi kamera trap adalah di sekitar lokasi jejak yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Kemudian kamera trap juga dipasang di area perbukitan yang tidak jauh dari lokasi awal temuan. Kamera dipasang pada pepohonan di titik-titik yang dinilai strategis.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Yogyakarta, Taufan Kharis menyebut pemasangan kamera trap ini merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat terkait dengan penemuan jejak kaki yang diduga merupakan jejak macan.
Ini coba kami pasang kamera trap, dalam rangka menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan adanya macan yang berleiaran. Kami coba untuk tiga kamera trap di tiga lokasi,” kata Taufan.
Taufan menjelaskan, pemasangan kamera trap dilakukan di lokasi yang dilaporkan warga sebagai tempat muncul atau dilalui sosok hewan liar tersebut.
Nanti kita coba pasang kurang lebih dua Minggu, setiap minggu kita pantau lagi apakah benar ada macan atau memang satwa lainnya,” kata Taufan. Lokasinya menyesuaikan laporan masyarakat,” kata dia.
Ia menjelaskan, kamera trap berfungsi untuk pemantauan satwa liar dengan sistem sensor gerak dan panas. Kamera tersebut dapat merekam gambar ketika ada pergerakan di sekitarnya.
Harapan Kami nanti lokasi yang kita pasang itu nanti dapat kita ketahui satwanya seperti apa, agar masyarakat juga tenang,” ucap Taufan.
Data hasil perekaman kamera trap akan dikumpulkan dan selanjutnya dikoordinasikan di internal BKSDA.
Apabila hasil pemantauan menunjukkan keberadaan satwa yang dilindungi, BKSDA akan menentukan langkah penanganan selanjutnya. Satwa biasa tetap kita sosialisasikan ke warga,” ucap dia.
Sebelumnya, jejak misterius yang diduga mirip jejak macan ditemukan di area pembangunan pondok pesantren di Panggul Kulon, Candirejo, Semanu, Gunungkidul, pada awal Januari dan kembali muncul pada 12 Januari 2026.
Berdasarkan pantauan awak media, lokasi temuan jejak berada sekitar 300 meter dari jalan raya Semanu–Jepitu.
Akses menuju lokasi masih berupa jalan berbatu dan tanah, yang menyulitkan kendaraan roda dua terutama setelah hujan karena terdapat kubangan.
Jejak hewan misterius tersebut kembali muncul di lokasi pembangunan pondok pesantren di Candirejo, Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (12/1/2026).
Hari ini saya tidak masuk kerja dan teman saya mengabari kalau ada temuan jejak macan lagi, untuk kejadiannya pukul 07.30 WIB,” kata warga Panggul Kulon sekaligus pekerja proyek, Heru Purwanto (56), saat dihubungi awak media melalui telepon.
Dari video yang dikirimkan, terlihat beberapa jejak di sekitar area proyek pembangunan pondok pesantren dengan jarak antarjejak sekitar satu meter. Untuk yang kedua ini jumlah jejaknya lebih banyak,” kata Heru.
Heru menambahkan, warga sekitar dan para pekerja proyek tidak merasa terganggu dengan keberadaan jejak tersebut. Ia menduga hewan liar itu datang untuk minum di penampungan air di sekitar lokasi.
Tujuan pemasangan dan kelebihan kamera trap:
- Tujuan utama: penelitian satwa liar, pemantauan populasi, dokumentasi perilaku, atau keamanan.
- Keunggulan: dapat merekam secara diam-diam, 24 jam, dan di lokasi yang sulit dijangkau manusia.
- Kelebihan lain: hemat tenaga, bisa dipasang lama tanpa pengawasan langsung, dan membantu identifikasi spesies yang jarang terlihat.
[Admin/tbbin]


