
Beritainternusa.com,Gunungkidul – Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah sekolah di Kabupaten Gunungkidul dan beberapa daerah lain menimbulkan keresahan di kalangan orangtua.
Mereka menilai program yang sebenarnya baik untuk mendukung gizi anak justru bisa menimbulkan risiko kesehatan.
Satu di antaranya Tri Wulandari (39), orangtua siswa di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Dirinya mengaku sangat khawatir jika hal tersebut menimpa anaknya yang masih duduk di bangku kelas II SD di salah satu sekolah di Wonosari tersebut.
Kalau kejadian keracunan terus berulang, orangtua pasti mikir-mikir, ngeri juga mengizinkan anak makan dari MBG.Tujuan utama program MBG ini meningkatkan kesehatan anak, bukan menambah masalah baru. Kami tidak mau anak kami jadi korban,” ujarnya pada Minggu (21/9/2025).
Dia menuturkan perlu ada evaluasi menyeluruh dan sanksi tegas jika ditemukan kelalaian dari pihak penyedia makanan.
Jika pemerintah tidak segera melakukan perbaikan menyeluruh lebih baik program MBG dihentikan.
Kalau melihat kondisinya seperti ini, lebih baik dihentikan dulu sampai ada perbaikan. Jangan racuni anak-anak kami, dengan makanan yang tidak layak konsumsi,” paparnya.
Kekhawatiran serupa pun disampaikan Joko Prasetyo (45), orang tua asal Playen, Kabupaten Gunungkidul. Sejak ada kasus keracunan dirinya memilih agar anaknya tidak mengonsumsi makanan MBG.
Meskipun, di sekolah anak saya masih aman. Saya tetap minta anak dibekali saja dari rumah, tidak usah makan itu (MBG) dulu. Kami sangat khawatir karena kejadiannya berulang kali,” tuturnya.
Apalagi, dia mengaku sering menerima keluhan dari anaknya terkait menu MBG yang disediakan di sekolah.
Ia menyebut beberapa kali anaknya pulang sekolah dengan cerita bahwa makanan yang diberikan tidak layak dikonsumsi.
Katanya sayurnya kadang sudah berbau bahkan tidak enak dimakan, begitu juga ayamnya ,” ujarnya.
Dirinya mengatakan jika kasus keracunan terus terjadi, lebih baik program MBG diberhentikan sementara, sampai ada perbaikan secara menyeluruh.
Ya, kalau tidak ada perbaikan lebih baik dihentikan sebelum tambah banyak korban. Yang terpenting bukan hanya anak makan gratis, tetapi anak makan dengan aman. Itu jauh lebih penting bagi kami sebagai orang tua. Jangan sampai menimbulkan masalah kesehatan. Anak-anak kami yang seharusnya sehat malah sakit,” pungkasnya
[Admin/tbin]





