Pengungsi banjir Jakarta

Beritainternusa.com,Jakarta – Banjir yang kembali merendam sebagian wilayah di DKI Jakarta, menyebabkan lebih dari 2.000 jiwa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman pada Senin (12/1/2026). Ratusan keluarga terdampak setelah rumah mereka terendam air akibat intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa warga yang mengungsi tersebar di berbagai titik, mulai dari masjid, mushalla, hingga rumah susun yang disediakan. Situasi ini menunjukkan dampak signifikan dari luapan air sungai yang memperparah kondisi genangan di ibu kota. Hal ini memerlukan respons cepat dan terkoordinasi.

Hingga Senin malam pukul 21.00 WIB, tercatat 63 Rukun Tetangga (RT) dan 23 ruas jalan di Jakarta masih terendam banjir. Ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga 1 meter, mengganggu aktivitas warga dan menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa jumlah pengungsi terus bertambah seiring meluasnya genangan air di berbagai wilayah. Di Kelurahan Kamal, Jakarta Barat, sebanyak 700 jiwa dari 500 KK mengungsi di Masjid Al Falah, mencari tempat yang lebih tinggi dan aman.

Sementara itu, warga Kelurahan Tegal Alur mencari perlindungan di rumah susun, dengan total 130 jiwa dari 30 KK yang terdampak. Selain itu, delapan KK warga Kelurahan Cipete Utara juga terpaksa mengungsi di Mushalla Nurul Iman, menunjukkan sebaran dampak yang luas.

Situasi serupa terjadi di Jakarta Utara, di mana 256 jiwa dari Kelurahan Kebon Bawang mengungsi di beberapa lokasi seperti Masjid Jamii Ar Ridho, Mushola Jamiyatul, Mushalla Al Ikhlas, Kantor RW, dan SDN 05 Kebon Bawang. Titik-titik pengungsian ini menjadi pusat bantuan sementara bagi para korban.

Kelurahan Lagoa juga mencatat 25 warganya mengungsi di Masjid Al Barokah dan Sekretariat RW.05. Tidak ketinggalan, 157 jiwa warga Kelurahan Warakas berlindung di Mushola Baiturahim, Masjid Miftahulsalam, dan Mushalla Al Wasilatul Iman, menunjukkan upaya kolektif masyarakat dalam menghadapi bencana.

Banjir Jakarta tidak hanya berdampak pada ribuan warga yang mengungsi, tetapi juga menyebabkan genangan di banyak wilayah vital. Ketinggian air yang bervariasi menjadi tantangan tersendiri bagi upaya penanganan bencana dan pemulihan kondisi.

Di Kelurahan Semper Barat, sebanyak 625 jiwa mengungsi di Rusun Embrio, dan 81 jiwa lainnya di Bengkel Mobil Gading Griya Lestari. Ini menunjukkan bahwa dampak banjir terasa merata di berbagai sudut ibu kota, dari permukiman hingga fasilitas umum.

Hingga Senin malam, genangan air tertinggi terpantau di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, serta Kampung Melayu di Jakarta Timur. Di kedua lokasi ini, ketinggian air mencapai puncaknya hingga 1 meter, hal ini mempersulit mobilitas dan mengancam keselamatan warga secara signifikan.

Penyebab utama meluasnya Banjir Jakarta adalah curah hujan yang sangat tinggi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, ditambah dengan meluapnya sejumlah sungai. Kombinasi faktor ini menciptakan kondisi yang rentan terhadap bencana banjir, menuntut kewaspadaan dan mitigasi berkelanjutan.

[Admin/mdbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here