Beritainternusa.com,Pacitan – Telaga Guyang Warak yang berada di Desa Kendal, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menjadi salah satu situs alam bersejarah di Kabupaten Pacitan yang menyimpan nilai geologi, budaya, hingga kisah masa lalu yang unik.
Telaga ini termasuk dalam kawasan Gunung Sewu yang dikenal sebagai bentang alam karst dunia.
Telaga Guyang Warak merupakan telaga alami yang terbentuk dari proses geologi selama ribuan tahun.
Selain memiliki nilai ilmiah, telaga ini juga menyimpan cerita rakyat serta perubahan kondisi lingkungan yang kini menjadi perhatian masyarakat.
Sebagai gambaran umum, Telaga Guyang Warak adalah telaga karst yang terbentuk dari air hujan yang mengisi cekungan dolina.
Telaga ini dahulu dikenal memiliki air yang melimpah sepanjang tahun, namun kini mengalami penyusutan yang cukup signifikan.
Telaga Guyang Warak merupakan salah satu telaga karst di kawasan Gunung Sewu yang memiliki air sepanjang tahun.
Telaga ini terbentuk dari akumulasi air hujan yang mengisi cekungan alami berupa dolina, dilansir dari wisata.gunungkidulkab.go.id.
Dolina tersebut memiliki dasar yang dilapisi tanah jenis terra rossa yang bersifat lempung, sehingga mampu menahan air dan menjadikan telaga ini tidak mudah kering.
Bentang alam di sekitar telaga juga khas, berupa perbukitan batu gamping dengan bentuk melengkung menyerupai gelombang atau sinusoida.
Lanskap ini menjadi ciri khas kawasan karst Gunung Sewu yang telah diakui secara internasional.
Keberadaan telaga ini tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menjadi bagian dari sistem hidrologi kawasan karst yang kompleks.
Dengan proses terbentuk yang alami dan unik, Telaga Guyang Warak menjadi salah satu warisan geologi yang bernilai tinggi di Pacitan.
Dikutip dari wisata.gunungkidulkab.go.id, nama “Guyang Warak” berasal dari bahasa Jawa, yakni “guyang” yang berarti mandi dan “warak” yang berarti badak.
Nama ini merujuk pada kepercayaan bahwa telaga tersebut dahulu menjadi tempat mandi badak yang hidup di kawasan itu pada masa lampau.
Badak yang dimaksud merupakan hewan vertebrata dari zaman Plistosen yang pernah hidup di kawasan karst Gunung Sewu sebelum akhirnya punah akibat perubahan lingkungan.
Mengutip berbagai sumber, punahnya badak di kawasan ini diperkirakan terjadi tidak terlalu lama dalam skala geologi, sehingga meninggalkan jejak cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Makna nama ini menjadikan Telaga Guyang Warak tidak hanya sebagai objek alam, tetapi juga sebagai bagian dari narasi sejarah purba yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Telaga Guyang Warak saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lokasi budidaya ikan air tawar.
Pada masa lalu telaga ini memiliki peran penting dalam kehidupan warga, mulai dari kebutuhan mandi, mencuci, hingga sumber air sehari-hari.
Air telaga yang dahulu melimpah bahkan pernah dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas, termasuk rencana penyediaan air melalui pompa untuk masyarakat sekitar.
Menurut cerita warga setempat, telaga ini juga menjadi tempat bermain anak-anak, mulai dari berenang hingga mencari ikan, yang menciptakan kenangan sosial yang kuat.
Dengan berbagai fungsi tersebut, Telaga Guyang Warak pernah menjadi pusat aktivitas masyarakat yang sangat vital.
Kondisi Telaga Guyang Warak saat ini mengalami penurunan debit air yang cukup signifikan dibandingkan masa lalu.
Kedalaman air yang dahulu mencapai 4 hingga 5 meter kini menyusut hingga sekitar 0,5 meter saat musim kemarau.
Salah satu penyebab utama adalah munculnya luweng atau lubang-lubang baru di sekitar telaga yang menyerap air ke dalam tanah.
Selain itu, berkurangnya pasokan air dari sungai bawah tanah juga turut memengaruhi kondisi telaga yang semakin sulit terisi penuh, bahkan saat musim hujan.
Upaya penanganan seperti penutupan lubang dengan berbagai metode telah dilakukan, namun belum memberikan hasil yang maksimal.
Telaga Guyang Warak merupakan bagian dari kawasan geopark yang dilindungi dan memiliki nilai penting sebagai warisan dunia.
Namun, kondisi telaga yang semakin menyusut menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan situs ini, baik dari sisi ekologis maupun potensi wisatanya.
Hingga saat ini pengelolaan telaga masih menghadapi kendala, termasuk keterbatasan kesiapan masyarakat untuk mengembangkan kawasan sebagai destinasi wisata.
Meski demikian, telaga ini tetap menarik bagi pengunjung yang mencari ketenangan dan keindahan alam yang masih asri.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Telaga Guyang Warak diharapkan dapat terus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan alam sekaligus saksi sejarah panjang kawasan karst Pacitan.
[Admin/tbbin]

