Salah satu bagian naskah kuno Patambaan berusia satu abad koleksi Museum Prabu Siliwangi, Sukabumi. (Liputan6.com/Fira Syahrin)
Naskah kuno Patambaan yang berada di Museum Prabu Siliwangi Sukabumi

Beritainternusa.com,JakartaBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian mendalam terhadap naskah kuno ‘Patambaan’ yang sudah berusia satu abad dari koleksi Museum Prabu Siliwangi, Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian tahap keenam ini mengungkap kompleksitas naskah setebal 148 halaman yang ditulis menggunakan aksara Jawa dialek Cirebonan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, BRIN mengidentifikasi naskah ini sebagai aset etnofarmasi unggulan. Kini, naskah ‘Patambaan’ tengah diusulkan untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) guna memperkuat pengakuan ilmiah terhadap kekayaan intelektual pengobatan tradisional Tatar Sunda.

Filolog perwakilan BRIN dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa manuskrip tersebut memuat 28 jenis tumbuhan berkhasiat serta metode pengolahan herbal. Uniknya, naskah ini juga mencakup perhitungan astronomi atau primbon untuk menentukan waktu pengobatan yang tepat.

Informasi di dalamnya sangat kompleks, mencakup resep herbal hingga metode pengolahan tanaman obat yang menjadi landasan penting bagi budidaya tanaman lokal,” ujar Ilham di Museum Prabu Siliwangi Kota Sukabumi, Rabu (15/4/2026).

Ilham menambahkan, beberapa tanaman yang teridentifikasi meliputi daun sirih dan mengkudu, hingga spesies langka seperti pohon Loa dan Lame. Temuan ini menjadi dokumentasi pengetahuan empiris masyarakat masa lalu yang berharga untuk pengembangan medis di masa depan.

Temuan ilmiah BRIN ini secara mengejutkan selaras dengan praktik pengobatan yang dijalankan oleh KH M Fajar Laksana, Pendiri Museum Prabu Siliwangi. Selama 30 tahun, ramuan warisan keluarga yang digunakan Kiai Fajar di Ponpes Modern Dzikir Al Fath ternyata identik dengan isi naskah ‘Patambaan’.

Setelah dibedah BRIN, ternyata ramuannya sama persis dengan yang saya praktikkan dari warisan keluarga. Ini bukti otentik ilmu herbal Sunda kita memiliki landasan literatur sejak abad ke-19,” ungkap Kiai Fajar.

Kiai Fajar menekankan bahwa sinkronisasi ini memberikan legitimasi kuat terhadap ilmu pengobatan tradisional yang selama ini terkendala akses literatur akibat penggunaan bahasa dan aksara kuno.

Ia berharap, penetapan Patambaan Siliwangi sebagai WBTB dan naskah fisiknya sebagai Benda Cagar Budaya dapat meningkatkan daya tarik pariwisata berbasis riset di Kota Sukabumi. Dengan dukungan kementerian terkait, produk budaya ini diharapkan mampu menarik minat peneliti hingga wisatawan mancanegara.

Kita ingin Patambaan Siliwangi ini menjadi aset WBTB resmi agar legal secara hukum dan bernilai akademis tinggi guna memajukan pariwisata pendidikan di Sukabumi,” pungkasnya.

[Admin/lpbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here