
Beritainternusa.com,Wonogiri – Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai rencana pembangunan pabrik semen di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan yang sangat besar. Nilainya ditaksir mencapai Rp26 triliun dalam kurun waktu 50 tahun masa eksploitasi, mencakup kerugian dari hilangnya lahan pertanian hingga biaya kesehatan.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan riset berjudul “Menggugat Ekstraktivisme Semen: Valuasi Jasa Lingkungan Karst Pracimantoro, Jawa Tengah” yang dirilis pada Agustus 2025.
Dua perusahaan yang merencanakan pendirian pabrik semen di wilayah tersebut adalah PT Sewu Surya Sejati (SSS) dan PT Anugerah Andalan Asia (AAA). PT SSS akan menambang batu gamping sebanyak 4,5 juta ton per tahun di lahan konsesi seluas 186,13 hektare, mencakup Desa Watangrejo, Suci, Gambirmanis, Joho, dan Petirsari.
Sementara itu PT AAA berencana mendirikan pabrik semen di lahan seluas 123,3 hektare di Desa Watangrejo, Suci, dan Sambiroto. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 4,2 juta ton per tahun.
Celios menilai proyek tersebut tak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga mengancam ekosistem karst dan kehidupan sosial masyarakat sekitar. Penelitian mereka menilai lima komponen valuasi lingkungan, yakni biaya kesehatan, air rumah tangga, kerugian pertanian padi, kehilangan serapan karbon, dan kerusakan biodiversitas.
Dalam dua skenario eksploitasi, jika tambang beroperasi 70 tahun, total kerugian lingkungan mencapai Rp22,7 triliun. Namun, jika masa tambang hanya 50 tahun, nilainya justru naik menjadi Rp26 triliun.
Komponen kerugian terbesar berasal dari sektor pertanian, yakni Rp13,5 triliun, akibat hilangnya lahan produktif. Dampak ini mengancam kedaulatan pangan lokal di enam desa terdampak serta dapat mengubah petani mandiri menjadi buruh industri.
Biaya kesehatan akibat polusi udara dan degradasi lingkungan juga mencapai Rp9 triliun, sedangkan kerugian jasa air rumah tangga dan keanekaragaman hayati ditaksir mencapai Rp2,1 triliun.
Peneliti Celios, Jaya Darmawan, mengatakan total kerugian Rp26 triliun itu merupakan beban publik akibat rusaknya bentang alam karst yang selama ini berfungsi sebagai penopang ekosistem.
Dengan penghitungan itu, bayi yang lahir di Kecamatan Pracimantoro akan langsung menanggung beban Rp26 juta akibat ekstraksi semen,” kata Jaya dalam diskusi Rock in Solo Festival bertema “Pegunungan Sewu dalam Ancaman Ekstraktivisme”, Sabtu (1/11/2025) lalu.
Selain kerugian finansial, eksploitasi karst juga diperkirakan menghilangkan fungsi hidrologi kawasan. Total jasa air yang hilang mencapai 1,4 miliar meter kubik, sementara potensi serapan karbon yang lenyap mencapai 61,8 juta kilogram CO₂ selama masa eksploitasi.
Sementara itu, Direktur PT SSS dan AAA, Suwadi Bing Andi, menjelaskan total area konsesi tambang berdasarkan izin usaha pertambangan lebih dari 500 hektare. Namun, perusahaan hanya akan menambang batu gamping di sekitar sepertiga dari luas tersebut.
Perusahaan memperoleh izin pertambangan selama 20 tahun yang dapat diperpanjang dua kali. Menurut Suwadi, masa produksi pabrik semen akan mencapai 70 tahun dengan total investasi sekitar Rp6 triliun.
Tidak mungkin pabrik semen itu hanya beroperasi 20 tahun. Modalnya nggak balik. Operasi produksi pabrik semen pasti lebih dari 20 tahun,” ujar Suwadi.
Ia menilai pro dan kontra di masyarakat merupakan hal wajar dan memastikan pembangunan pabrik telah melalui analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang sah dan teruji,” tandasnya.
[Admin/spbin]

