Beritainternusa.com,Gunungkidul – Musim hujan telah tiba disertai berseminya daun pohon jati menjadi pertanda musim ungkrung atau kepompong ulat pohon jati. Hal ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat di Gunungkidul.
Pasalnya, banyak masyarakat yang memanfaatkan momen ini menjadi pencari ungkrung untuk tambahan penghasilan.
Seperti yang terlihat di sekitar hutan jati di Padukuhan Mokol, Kalurahan Selang, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Beberapa warga di sekitar berbondong-bondong masuk kebun jati untuk mengumpulkan ungkrung.
Dengan teliti, para pencari ungkrung mengais tumpukan dedaunan pohon jati yang sudah berguguran di tanah.
Mereka membolak-balikkan bagian daun mencari ungkrung yang tersembunyi di sana. Kemudian, meletakkannya pada wadah ember yang sudah disiapkan.
Salah seorang warga pencari ungkrung, Suparman (57), mengatakan setiap musim ungkrung dirinya selalu ikut berburu dari satu hutan jati ke hutan jati lain. Diakuinya dalam sehari bisa mencari ungkrung di dua lokasi berbeda.
Alhamdulillah, musim ungkrung seperti ini bisa jadi tambahan penghasilan. Jadi, kalau pagi saya kerja jadi kuli bangunan, setelah itu saya lanjut mencari ungkrung, biasanya per dua hari saya jual, itu bisa dapat 1 kilogram lebih, biasanya saya jual Rp100 ribu per kilogramnya ,”tutur dia saat ditemui di lokasi, Selasa (19/11/2024).
Dia mengatakan biasanya warga membeli ungkrung untuk dijadikan pengganti lauk-pauk. Di mana, kepompong ulat jati ini lumrahnya dimasak tumis menggunakan bawang dan cabai.
Kalau warga di sini sudah biasa makan ungkrung pengganti iwak, paling enak ditumis pakai garam. Rasanya mirip udang gurih tidak amis sama sekali,”ujarnya.
Suparman mengatakan meskipun memiliki rasa yang enak namun tidak semua orang bisa mengonsumsi ungkrung. Kata dia, tak jarang ada yang mengalami gatal-gatal usai mengonsumsi ulat jati tersebut.
Kalau katanya ungkrung ini tinggi protein bahkan lebih tinggi dari udang. Makanya, kalau ada yang alergi protein kalau makan ungkrung bisa gatal-gatal,”tuturnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Semili (45), warga Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Ibu rumah tangga ini sengaja menjadi pencari ungkrung saat musimnya tiba.
Setiap musim ungkrung pasti ikut cari juga untuk dijual, lumayan untuk tambahan penghasilan. Biasanya cari ungkrung bersama teman juga, itu ada dua orang,”ucapnya.
Dia mengatakan biasanya mulai mencari entung sekitar pukul 08.00 WIB sampai menjelang sore pukul 15.00 WIB. Dalam pencarian ungkrung tersebut bisa menempuh jarak sejauh 18 kilometer dari rumahnya.
Pagi hari kami sudah berangkat, kalau lokasinya bisa di mana saja. Itu bisa sampai 18 kilometer jauhnya seringnya keliling di mana ada hutan jati-nya. Biasanya itu sampai mendekati Ashar kami baru pulang,”ucapnya.
Dia mengatakan jumlah ungkrung yang didapat dalam sehari tidak menentu. Terkadang bisa sampai 1 kilogram bahkan bisa sampai 1,5 kilogram per harinya.
Kalau dapat gak tentu tergantung keberuntungan, karena kan yang cari ungkrung juga banyak. Tapi,rata-rata bisa 1 kilogram per harinya,”terangnya.
Semili mengatakan ungkrung yang didapatnya biasa dijual dengan harga Rp100 ribu-Rp115 ribu perkilogram. Dirinya pun mengaku tidak begitu kesulitan untuk menjual ungkrung tersebut.
Pasti langsung laku terjual, biasanya saya tawarkan ke tetangga. Kalau tidak sebelum mencari ungkrung mereka sudah pesan dulu minta dicarikan berapa banyak nanti tinggal bayar,”ungkapnya.
Dirinya mengaku datangnya musim ungkrung menjadi keberkahan tersendiri baginya. Sebab, bisa membantu perekonomian keluarganya.
Alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa bantu beli kebutuhan di dapur. Yang pastinya menjadi berkah tersendiri setiap musim ungkrung tiba,”tandasnya.
[Admin/tbbin]


