:strip_icc()/kly-media-production/medias/5512440/original/020915100_1771974560-Massa_Rusak_Pagar_Mapolda_DIY__Polisi_Sesalkan_Aksi_Anarkis_-_02.jpeg)
Beritainternusa.com,Jogja – Polda DIY akhirnya buka suara usai kantornya digeruduk massa hingga Selasa (24/2/2026) malam. Aksi massa hingga malam hari berujung anarkis hingga menyebabkan pagar di sisi timur kantor tersebut rusak.
Massa sempat coba mendekati pagar pembatas yang telah dipasang kawat berduri. Beberapa di antaranya bahkan mencoba merangsek masuk ke halaman markas kepolisian.
Menurut Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, massa aksi tiba sekitar pukul 18.00 WIB. Situasi yang semula terkendali berubah memanas ketika sekelompok orang diduga melakukan tindakan anarkis.
Mereka melakukan perusakan pagar sisi timur, kemudian masuk dan diterima Dirintelkam dengan baik,” ujar Ihsan saat dihubungi awak media Selasa (24/2/2026) malam.
Pagar sisi timur mengalami kerusakan akibat didorong dan dirusak oleh massa. Tak hanya itu, beberapa fasilitas di sekitar halaman Mapolda DIY juga dilaporkan terdampak aksi vandalisme. Meski demikian, klaimnya, aparat tetap berupaya melakukan pengamanan secara humanis dan terukur.
Ihsan menyesalkan tindakan anarkis yang terjadi dalam aksi tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian tetap membuka ruang komunikasi dan menerima perwakilan massa untuk menyampaikan aspirasi secara baik-baik.
Kami imbau massa tidak terprovokasi, dan jangan bertindak anarkis,” tegasnya. Menurutnya, tindakan provokatif justru dapat merugikan banyak pihak dan menciderai tujuan penyampaian aspirasi. Kepolisian, lanjut Ihsan, berkomitmen menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, sekaligus memastikan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tetap dihormati sesuai aturan yang berlaku.
Tak hanya melakukan aksi, ratusan massa juga sempat menggelar salat gaib dan doa bersama di ringroad depan Mapolda DIY. Aksi ini sebagai bentuk solidaritas untuk korban kekerasan aparat di sejumlah daerah, sekaligus menyuarakan tuntutan reformasi Polri.
Perwakilan massa aksi, Yazi, mengatakan doa itu sengaja dihaturkan untuk para korban yang meninggal dunia dalam peristiwa yang melibatkan aparat kepolisian. Di antaranya Gamma Rizkynata (17) di Semarang, Afif Maulana (13) di Padang, serta yang terbaru Arianto (14) di Tual, Maluku, meninggal akibat penganiayaan anggota Brimob.
Ini adalah bentuk mendoakan mereka. Semoga mereka tenang di alam sana dan semoga para polisi itu bisa sadar bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah hal yang salah,” ujar Yazi di sela aksi, Selasa malam.
Doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk para korban yang meninggal dunia, tetapi juga bagi mereka yang mengalami penangkapan dan tindakan represif dalam aksi demonstrasi Agustus tahun lalu. Yazi turut menyinggung nama Perdana Arie Putra Veriasa, mahasiswa UNY yang disebut baru saja bebas dari penjara.
Kehadiran dirinya dalam aksi tersebut bukan semata sebagai mahasiswa. Melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang menginginkan adanya pembenahan di tubuh Polri.
Setidaknya kita berdoa dari hati yang paling dalam, bahwa Allah tidak akan pernah diam. Kita doakan yang terbaik untuk para korban,” katanya.
Sebelumnya, massa mulai berdatangan selepas waktu Magrib. Mereka datang secara bergelombang dari arah timur, berjalan kaki menuju gerbang timur Mapolda DIY. Konsentrasi massa sempat terpusat di pintu gerbang, sebelum sebagian lainnya bergerak ke badan jalan Ringroad depan Polda.
Sejumlah peserta aksi melakukan coretan di sekitar lokasi dengan berbagai tulisan bernada protes. Beberapa di antaranya bertuliskan “All Cops Are Bastard” dan “Pembunuh”. Selain itu, massa juga memblokade Ringroad sisi barat gedung Polda.
Water barrier dipasang di jalur lambat maupun jalur cepat dari arah barat ke timur. Akibatnya, arus lalu lintas terpaksa dialihkan. Ruang kosong di depan Mapolda DIY kemudian digunakan sebagai tempat pelaksanaan salat dan doa bersama.
[Admin/lpbin]
