Beritainternusa.com,Semarang – Insiden memilukan kembali menimpa dunia jurnalisme di Jawa Tengah. Kali ini menimpa seorang jurnalis kontributor MNC Group bernama Manik Priyo Prabowo yang menjadi korban kebiadaban tangan-tangan manusia pengecut dan tak bertanggung jawab.
Pada Jumat dini hari, 15 Agustus 2025,saat perjalanan pulangnya di Desa Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, berubah menjadi mimpi buruk ketika Manik diserang oleh orang tak dikenal dengan senjata tajam.
Serangan brutal itu membuat Manik menderita luka serius di bagian kepala. Dua kali bacokan mengenai kepalanya, hingga memaksa tim medis melakukan operasi penyelamatan.
Beruntung nyawanya masih tertolong, namun rasa sakit dan trauma masih harus ia tanggung hingga kini. Meski sudah diperbolehkan pulang, Manik belum sepenuhnya pulih.
Ia hanya bisa beristirahat di rumah dengan kondisi lemah, sesekali masih mengeluh sakit di bagian saraf kepala, bahkan belum sanggup banyak berbicara.
Bagi keluarga, kejadian penganiayaan jurnalis ini terasa seperti petir di siang bolong. Felek Wahyu Prabowo, kakak kandung Manik, mengaku masih syok.
Adik saya belum lama kembali dari penugasan di Surabaya. Hampir sebulan ini tidak liputan. Terakhir kali turun lapangan ya waktu meliput demo petani Sugihmanik soal akses jalan pertanian menuju kawasan industri,” ujarnya kepada awak media, Rabu (20/8/2025).
Meski begitu, ia enggan menduga-duga apakah insiden pembacokan itu berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik adiknya atau tidak. Saya tidak berani berspekulasi, karena pelakunya pun belum tertangkap,” tambahnya.
Kabar jurnalis dibacok ini sontak memicu keprihatinan mendalam dari kalangan pers. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Tengah menyatakan sikap tegas.
Ketua IJTI Jateng, Teguh Hadi Prayitno, dengan nada lantang mengecam keras tindakan keji tersebut.
Kekerasan terhadap jurnalis adalah tindak kriminal. Tidak ada alasan, tidak ada pembenaran. Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini, menangkap pelaku, mengungkap motif, dan menyeret siapapun yang terlibat ke meja pengadilan. Hukuman setimpal harus diberikan,” tegasnya, Rabu (20/8/2025).
Menurut Teguh, serangan terhadap jurnalis bukan hanya melukai individu, melainkan juga menodai prinsip demokrasi. Setiap warga negara, tanpa terkecuali, berhak hidup aman dari ancaman kriminal.
Apalagi seorang jurnalis, yang tugasnya memberi informasi bagi masyarakat. Kekerasan semacam ini jelas sebuah ancaman bagi kebebasan pers,” tambahnya.
Nada serupa juga datang dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang. Ketua AJI, Aris Mulyawan, menegaskan bahwa peristiwa pembacokan terhadap Manik bukanlah insiden biasa.
Ini tidak hanya membahayakan nyawa seorang jurnalis, tapi juga merupakan alarm bahaya bagi kebebasan pers di negeri ini,” tegas Aris.
Aris mengingatkan, bila kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian hukum yang jelas, maka akan menimbulkan efek domino yang sangat berbahaya.
Jika serangan seperti ini tidak ditangani serius, para pewarta bisa gentar dalam meliput isu-isu penting. Mereka bisa terintimidasi, terutama saat memberitakan hal-hal yang menyangkut kepentingan publik dan kepentingan korporasi besar,” jelasnya.
Sementara itu, di tengah keterbatasannya, Manik hanya bisa berkata singkat. Ia menyerahkan seluruh penanganan kasus kepada kepolisian.
Kasus ini saya pasrahkan kepada Polri yang sudah profesional menangani perkara seperti ini,” ucapnya lirih, menahan rasa sakit.
Kasus ini bukan sekadar catatan kriminal. Lebih dari itu, ia menjadi luka bagi dunia jurnalisme Indonesia.
Seorang jurnalis, yang mestinya bisa pulang dengan selamat setelah bekerja, justru harus berhadapan dengan ancaman nyawa.
Kini publik menanti keseriusan aparat penegak hukum. Desakan IJTI dan AJI seolah mewakili suara ribuan jurnalis di seluruh Indonesia yang menuntut perlindungan. Sebab tanpa jaminan keamanan, kerja jurnalistik akan selalu dibayang-bayangi rasa takut.
Manik Priyo Prabowo hanyalah satu nama, namun kisahnya menyuarakan kepedihan yang lebih besar bahwa kebebasan pers masih terus diuji, dan bahwa keberanian seorang jurnalis kadang harus dibayar dengan darah.
[Admin/scbin]






