Beritainternusa.com,Jakarta – Perselisihan elite Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan petinggi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat ini menjadi sorotan warga Nahdliyin.
Sejumlah Kiai dan warga Nahdliyin yang tergabung dalam Jaringan Nahdliyyin Pengawal Khitthah Nahdlatul Ulama (JNPK-NU) mengaku prihatin.
Sejumlah Kiai tersebut diantaranya merupakan Syuriah PBNU yang juga Ketua Nasional FKUB Kiai Abdul Muhaimin; Gus Baihaqi, mantan Ketua PBNU dan Sekjen Forum Pesantren, Kiai Imam Aziz, mantan Ketua PBNU sekaligus pendiri LKiS dan Ketua OC Muktamar NU Jombang dan Lampung;
Kiai Marzuki Kurdi, mantan ketua Lakpesdam era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga ketua PBNU dan SC Muktamar; Kiai Nur Kholik Ridwan, ketua Lakpesdam DIY dan pengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogya, serta sejumlah tokoh lainnya.
Koordinator JPNK NU, Imam Baihaqi menyinggung pernyataan dan perilaku elite PBNU yang kerap menimbulkan kegaduhan dan konflik horizontal.
Menurutnya, JPNK-NU perlu bersuara dengan didasari nilai-nilai dasar Qanun Asasi, Khitthah Nahdliyah dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang jadi konstitusi Nahdlatul Ulama.
Imam mengingatkan agar PBNU fokus dalam persoalan kemaslahatan umat dan masalah agama.
Yang seharusnya fokus dan khidmah untuk kemaslahatan umat, baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan terutama agama. Politik praktis adalah ranah partai politik yang seharusnya tidak dimasuki oleh PBNU, sebagaimana mandat Khittah NU hasil Muktamar 1984,” jelas Imam, dikutip Senin (12/8/2024).
Imam menyampaikan seperti itu untuk merespons perkembangan terakhir atas apa yang dilakukan PBNU.
Ia pun menyinggung seperti pembekuan, likuidasi struktur pengurus NU di bawah, pendiaman dalam menyikapi dan menangani isu-isu krusial nasional, seperti penerimaan konsesi tambang, penolakan terhadap Pansus Haji oleh DPR RI, serta merecoki PKB sehingga memunculkan perselisihan, dan lain sebagainya.
Semuanya sering kali memancing kegaduhan dan konflik horisontal, kontroversi,” jelas Imam.
Oleh karena itu, Imam menuturkan warga Nahdliyyin kultural yang tergabung dalam JNPK-NU mengeluarkan pernyataan sikap.
Berikut adalah pernyataan sikap lengkap yang dikeluarkan JNPK NU:
Pertama, Mengimbau semua pihak, terutama PBNU, menjaga Ukhuwah Nahdliyyah dan Ukhuwan Wathaniyah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Kedua, Meminta PBNU kembali meneguhkan Khitthah dan menguatkan kembali posisinya sebagai kekuatan civil society yang independen.
Ketiga, Meminta PBNU segera menghentikan tindakan penyulut konflik di antara sesama warga Nahdliyyin.
Keempat, Mendorong PBNU mengevaluasi arah kepemimpinan dan kebijakan organisasi sehingga bisa sejalan mandat konstitusi Organisasi (qonun asasi dan AD/ART).
Kelima, Memohon PBNU meluruskan penyimpangan sejarah dan merawat makam-makam pendiri NU.
Keenam, Mempertanyakan kebijakan larangan menarik iuran warga (‘ianah syahriah), karena telah diatur dalam AD/ART.
Ketujuh, Mendorong PBNU membangun ekonomi kerakyatan demi kemandirian ekonomi, tanpa bergantung pada politik ekonomi kekuasaan; termasuk dengan menerima konsesi tambang Batubara, suatu industri ekstraktif yang merusak lingkungan dan berpotensi konflik sosial.
Kedelapan, Memohon kepada PBNU untuk mengedepankan sikap kenegarawanan dengan mendukung Pansus Haji DPR RI, sesuai hukum perundang-undangan yang berlaku.
Kesembilan, Berharap PBNU lebih memperhatikan masalah-masalah keummatan daripada politik kekuasaan agar marwah ke-NU-an kembali terjaga sebagai ormas sosial keagamaan.
Demikian pernyataan sikap JNPK-NU sebagai respon terhadap perkembangan NU saat ini,” jelas Imam.
JPNK-NU berharap agar PBNU kembali pada jalur yang sesuai dengan Khittah NU dan lebih memperhatikan kepentingan umat daripada terlibat dalam politik praktis
Berikut warga Nahdliyin yang tergabung dalam JNPK-NU:
- Imam Baehaqi
- Mustafid
- Nur Kholiq Ridwan
- Hasan Basri
- Aguk Irawan
- Ismahfudi
- KH. Abdul Muhaimin
- Zuhdi Abdurrahman
- Mathori a. Elwa
- Hindun
- Yaqin
- KH Marzuki Kurdi
- KH. Imam Aziz
- Mustagfiroh Rahayu
- Siti Amirotus Sholihah
- Janet Nur Jannah
- Titi Fatihah
- Arifudin
- Ichwan
- Ahmad Solehudin
- Hidayatut Thoyyibah
- Dimyati
- Sabar Imron
- Yusuf Anas
- Abdul Waidl
- Imam Nawawi
- Aris Anwar
- Imron Rosyadi
- Hasan Basri
- Luthfi Rahman
- A. Maulani
- Nuruddin Amin
[Admin/itbin]





