:strip_icc()/kly-media-production/medias/5567173/original/008778700_1777268362-headline_1777266513.jpg)
Beritainternusa.com,Sukabumi – Akses kesehatan yang layak masih sangat jauh dari harapan bagi warga Kampung Cidahu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Akibat jalan yang rusak parah dan tak bisa dilalui mobil, warga harus bertaruh waktu menandu pasien demi mendapatkan pertolongan medis secepatnya.
Peristiwa memilukan kembali terjadi pada Sabtu (25/4/2026). Seorang warga yang tengah sakit parah terpaksa dievakuasi menggunakan tandu darurat dari kain sarung dan bambu.
Warga dan keluarga harus berjalan kaki membopong sejauh kurang lebih 1 kilometer dengan waktu tempuh mencapai satu jam.
Setelah perjuangan panjang menembus medan yang sulit, pasien baru bisa dijemput ambulans desa di titik yang dapat dijangkau kendaraan untuk kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Al Mulk, Kota Sukabumi.
Kondisi ini dibenarkan oleh Den Galih (25), warga setempat. Ia menyebut bahwa evakuasi dengan cara ditandu sudah menjadi pemandangan biasa namun menyakitkan bagi warga Kampung Cidahu setiap kali ada keadaan darurat medis.
Memang setiap kali ada warga yang sakit parah harus ditandu dulu, karena ambulans tidak bisa masuk. Jalan rusaknya parah sekali, mobil tidak bisa lewat,” ujar Den Galih, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, hampir 10 kilometer ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Tanjungsari dengan Desa Bojongtipar hancur. Mirisnya, perbaikan yang dilakukan sebelumnya sangat minim dan tidak bertahan lama.
Rusaknya hampir 10 kilometer. Yang diaspal cuma sekitar 200 meter, itu juga belum tiga bulan sudah rusak lagi,” ungkapnya.
Khusus di wilayah Kampung Cidahu, akses jalan bahkan belum pernah tersentuh pengaspalan. Jalur tersebut hanya berupa tanah dan bebatuan yang berubah menjadi lumpur licin saat diguyur hujan.
Warga merasa terisolasi karena kerusakan jalan ini tidak hanya menghambat akses kesehatan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak sekolah.
Kabag TU UPTD PU Jampangtengah, Robi Ferdian, buka suara soal kondisi tersebut. Dia mengklaim pemerintah telah mengalokasikan pembangunan dua paket pekerjaan rekonstruksi dan rehabilitasi jalan pada tahun ini.
Namun, pengerjaan akan dilakukan secara bertahap dimulai dari ‘titik nol’ sesuai kesepakatan tingkat kecamatan dan desa agar pembangunan lebih berkelanjutan.
Ke depan, ruas Leuwi Liang–Bojongtipar akan diusulkan untuk mendapatkan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Bantuan Provinsi (Banprov),” jelasnya.
Hingga janji tersebut terealisasi, warga Cidahu hanya bisa berharap tidak ada lagi nyawa yang terancam akibat lambatnya evakuasi di jalur yang rusak.
[Admin/lpbin]





