Beritainternusa.com,Jakarta – Pidato Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada HUT ke-51 PDIP disebut layak mendapat pujian dan apresiasi. Muatannya dinilai penting dan berbobot sebagai pencerahan dan pendidikan politik bagi bangsa ini, terutama dalam situasi sekarang ini.
Pandangan ini disampaikan pengamat kebijakan dan bisnis, Nur Iswan, (Jumat, 12/01/24). Dalam situasi crucial, Megawati lagi-lagi menunjukan kelasnya sebagai negarawati. Ia menjadi Ibu Bangsa sekaligus penjaga martabat konstitusi, etika, hukum dan iklim demokrasi,” kata Iswan.
Pesan tersirat dari pidato Megawati, lanjut Iswan, yang utama bermakna penegasan kembali bahwa negara ini adalah negara hukum dan bukan negara kekuasaan.
Bu Mega seperti sedang mengingatkan dengan sangat keras terutama kepada elite agar kembali kepada nurani dan etika. Jangan menjalankan kekuasaan dengan ugal-ugalan atau semau-maunya” kata dia.
Menurut alumnus School of Public Policy and Administration, Carleton University, Canada, ini, Megawati adalah salah satu teladan dalam berpolitik dan bernegara.
Beliau lah yang memandu Reformasi 89-98 lalu bersama Gus Dur, Sultan Yogya, Amien Rais, dan lain-lain. Salah satu tujuan reformasi kan tegaknya etika kepemimpinan, Hukum yang kokoh dan adil serta kebebasan atau demokrasi yang sehat.” ucapnya.
Sebagai tokoh reformasi dan demokrasi, dalam pandangan Iswan, Megawati tampaknya prihatin dan seperti terlukai oleh perkembangan politik dan hukum akhir-akhir ini. “Sindirannya kan terang benderang. Demokrasi dan tegaknya hukum adalah cita-citanya. Tapi seperti mundur ke belakang saat ini” urai Iswan.
Kedua, Iswan menyoroti sikap bersahaja Megawati saat menjadi capres petahana pada 2004. “Sebagai Presiden ia memberi contoh baik yakni tidak menggunakan kekuasaannya untuk berbuat semaunya. Di Pilpres 2014 pada saat ia masih punya kesempatan maju kembali, ia memilih mendorong Jokowi,” ungkap Iswan.
Bahkan, lanjut Iswan, pada Pilpres kali ini, ia juga tidak mendorong anaknya, Puan Maharani yang sesungguhnya layak, sebagai capres dari PDIP. “Malah, ia mendorong Ganjar. Itu bukti konkret sebagai negarawati. Karena kepemimpinan negara bukan milik pribadi yang bisa diwariskan.” Kata Iswan.
Ketiga, lanjutnya, Megawati memandang bahwa kebebasan dalam demokrasi dan kesamaan di hadapan hukum adalah hal yang perlu dijaga.
Dalam bahasa sederhana, Megawati menghendaki Rakyat agar bebas menggunakan hal pilihnya. Jangan diintimidasi. Apalagi diintimidasi oleh aparat negara. Netralitas TNI-Polri diminta dilaksanakan sungguh-sungguh,” jelas Iswan yang juga Youtuber ini.
Terakhir, kata Iswan, Megawati secara sederhana memberi ilustrasi mengagumkan bahwa pemimpin itu ibarat payung. Payung itu adalah analogi kepemimpinan bagi Megawati. Simbol untuk melindungi dan mengayomi seluruh warga negara,” tutup Iswan.
[Admin/kprbin]





