:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521599/original/094007700_1772694459-1002468412.jpg)
Beritainternusa.com,Semarang – Harapan Bagus (50), seorang pedagang nasi goreng di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah agar anaknya Arnendo, (20), bisa meraih sarjana antropologi sosial di Universitas Diponegoro (Undip) kemungkinan gagal di tengah jalan.
Pasalnya, Arnendo kini terbaring lemas di ruang perawatan. Tulang hidungnya patah. Dia mengalami gegar otak, dan gangguan pada syaraf mata kiri akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh 30 mahasiswa antropologi sosial Undip.
Zainal Petir dari LBH Petir Jateng meminta kampus Undip dan Polrestabes Semarang mengambil tindakan tegas atas kebrutalan yang menyebabkan Arnendo cacat fisik. Laporan polisi kemudian viral di sejumlah sosial media.
Setelah keluarga korban minta pendampingan, per 2 Maret 2026, saat itu saya langsung datangi Polrestabes dan menemui AKBP Andika, Kasatreskrim agar perkara segera ditindaklanjuti mengingat orang tua korban sudah lama buat laporan, 16 November 2025 namun belum ada tindakan nyata terhadap para pelaku,” ungkap Zainal Petir kepada awak media, Kamis (05/03/26).
Orang tua korban putus asa karena cita-cita anaknya menjadi anggota polisi melalui jalur sarjana bakal gagal karena cacat fisik yang diderita akibat penganiayaan.
Hari itu, 15 November 2025, pukul 10.57 WIB. Adyan, seorang mahasiswa antropologi sosial semester 4, bertemu Arnendo. Dia mengundang Arnendo untuk ngobrol di kos biru yang terletak di Jl. Bulusan Utara Raya, Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Alasannya ingin membicarakan event collective (acara musik kampus).
Sekitar pukul 22.03 WIB, korban berangkat menuju tempat yang sebelumnya sudah disepakati, kos Biru. Sesampai di sana, Arnendo melihat banyak orang di halaman kos. Obrolan dimulai dan mereka mulai memaksa Arnendo untuk mengaku melakukan pelecehan terhadap adik tingkat Uca.
Arnendo sudah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Arnendo hanya bercanda dengan menarik tangan Uca dengan tujuan mengajak dia menuju ke warung makan, dalam rangka mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan program studi antropologi sosial.
Jadi tidak ada pelecehan wong nggandeng tangan Uca di kampus kondisi cukup ramai. Korban tidak sendirian tapi bersama Wiryawan. Kejadian sebenarnya itu bukan pelecehan tapi diperkirakan salah satu pelaku suka dengan Uca,” ungkap Zainal Petir.
Mereka tetap tidak percaya dan terus memojokkan Arnendo. Perdebatan itu berlangsung kurang lebih selama satu jam. Sekitar pukul 23.00, Mathew (mahasiswa antropologi sosial semester 6) mulai menggunakan kekerasan, memukul korban beberapa kali. Arnendo ditelanjangi.
Mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekitar 30 orang mulai mengelilingi korban, mencekam pokoknya. Mereka menendang, memukul, secara bergantian. Baju dilepas, jaket, celana jeans, dan sabuk juga dilepas,” kata Petir.
Salah seorang mahasiswa bernama Dito berusaha melindungi Arnendo. Namun usahanya sia-sia. Jumlah mereka terlalu banyak.
Penyiksaan terhadap Arnendo terus terjadi. Mereka meludahi, menyundut rokok, dan menusuk badan korban dengan jarum pentul berkali-kali. Mereka juga menggunakan alat-alat seperti hanger baju, batang kayu, dan menyabet kepala korban menggunakan besi dari ikat pinggang.
Sekitar pukul 03.00 WIB, leher korban diikat menggunakan ikat pinggang dan diperlakukan seperti binatang. Mereka semua sambil tertawa,” jelas Zainal Petir.
Mereka terus menyiksa Arnendo tanpa henti. Bahkan area kemaluan Arnendo dioles dengan balsam. Penganiayaan berhenti setelah mendengar adzan subuh, sekitar pukul 04.15 WIB.
Arnendo diantar kembali ke kos oleh Dito dan Erza (mahasiswa antropologi sosial semester 4). Lalu, Arnendo diantar ke RS Banyumanik 2 oleh Anggi, teman orangtua Arnendo sekitar pukul 08.00.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521573/original/082556800_1772693707-1002468196.jpg)
Arnendo dirawat di RS Banyumanik 2, 16 November 2025, mulai jam 08.15 sampai pukul 17.00. Selanjutnya dipindah ke RS Bina Kasih Ambarawa agar lebih dekat dengan rumah korban. Di RS Bina Kasih Ambarawa dirawat 16 November sore sampai tanggal 21 November 2025.
Diagnosa dari dokter adalah korban mengalami patah tulang hidung dan gegar otak, serta gangguan syaraf mata. Arnendo semester 4 berstatus cuti karena trauma apalagi pelaku satu jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya Undip belum ditangkap,” kata Zainal Petir.
[Admin/lpbin]

