Para pengunjung ruang sidang PN Sleman

Beritainternusa.com,Jogja –  Suara solidaritas bergema di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Sleman pada Rabu (18/2/2026). 

Seusai pleidoi Perdana Arie Putra Veriasa dibacakan, para pengunjung tak henti-hentinya meneriakkan “bebaskan Arie!” dan “hidup Arie!”. 

Beberapa di antara mereka mengenakan topeng bergambar wajah Reza Shendy Pratama, mahasiswa Amikom Yogyakarta, serta Affan Kurniawan, driver ojek online yang meninggal pada Agustus 2025. Simbol itu menjadi pengingat bahwa perjuangan Arie tak berdiri sendiri.

Ketika sidang selesai, lantunan Darah Juang menggema, mengiringi langkah Arie menuju ruang tahanan sementara.

Di tangannya, ia membawa mawar merah pemberian pengunjung sebuah tanda kasih dan dukungan yang sederhana namun penuh makna.

Dukungan moral dan politik juga datang dari Forum Cik Di Tiro. Marsinah, perwakilan forum, menegaskan bahwa mereka akan mengawal kasus ini hingga Arie benar-benar dibebaskan dan nama baiknya dipulihkan.

Menurutnya, kebebasan Arie akan menjadi pelajaran penting bagi negara bahwa menyuarakan pendapat adalah hak yang harus dijamin keamanannya.

Marsinah menambahkan, jika kebebasan tidak diberikan, Forum Cik Di Tiro bersama tim Bara Adil siap menempuh jalur hukum lain.

Ia menekankan bahwa pengawalan kasus ini adalah bagian dari upaya menegakkan hukum agar berpihak pada suara-suara kritis yang menentang ketidakadilan.

Simbol-simbol dukungan di ruang sidang, seperti bunga, disebutnya sebagai ekspresi perawatan demokrasi.

Bunga melambangkan kasih sayang rakyat terhadap keadilan, sekaligus doa agar Ramadan tidak dinodai putusan yang tidak adil.

Ia mengibaratkan bunga sebagai alam yang harus dirawat dengan ketulusan, sama halnya dengan merawat nalar kritis dan keberpihakan.

Sementara itu, lagu Darah Juang yang bergema dianggap sebagai pernyataan cinta tanah air. Arie dipandang sebagai simbol anak muda yang berpamitan kepada orangtuanya demi membela negeri.

Lagu itu menjadi restu dari “ibu” yang membesarkan mereka, agar perjuangan menegakkan keadilan di Indonesia terus berlanjut.

Pada kesempatan yang sama, ayah Arie, Thomas Oni Veriasa, turut dihadir. Dalam kesempatan itu, Thomas menanggapi tuntutan satu tahun penjara yang diajukan jaksa.

Menurutnya, tuntutan tersebut terasa berlebihan, terlebih setelah mendengar nota pembelaan tim penasihat hukum Bara Adil yang menegaskan tidak ada kausalitas antara tindakan yang didakwakan dengan akibat yang dituduhkan.

Ia berharap majelis hakim dapat melihat perkara ini secara proporsional dan memutus dengan adil.

Thomas menyadari proses hukum yang menimpa anak sulungnya adalah risiko dari pilihan jalan perjuangan.

Sejak awal, ia dan istrinya mendukung keputusan Arie untuk terlibat dalam pergerakan sosial, meski menyadari tidak semua orangtua akan berani mengambil sikap serupa.

Baginya, dukungan itu adalah bentuk kepercayaan bahwa Arie memahami risiko dan belajar dari passion yang ia pilih.

Ia menilai banyak aktivis mengalami nasib serupa, sehingga jejaring bantuan hukum menjadi penting. Kasus Arie, menurutnya, adalah pembelajaran bersama bahwa perbaikan tata negara harus diupayakan kolektif.

Sebagai negara demokrasi, suara rakyat, termasuk mahasiswa, mestinya didengar. Bentuk perlawanan muncul karena suara-suara itu kerap diabaikan.

Terkait penegakan hukum, Thomas menekankan perlunya pendekatan yang lebih humanis. Polisi dan aparat penegak hukum, katanya, harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar hubungan dengan masyarakat lebih sehat dalam menata negara.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat dan tokoh yang hadir, menilai solidaritas itu memperkuat keyakinan bahwa perjuangan Arie dan para aktivis adalah suara melawan ketidakadilan.

Bagi Thomas, demonstrasi adalah pilihan terakhir ketika pemerintah tidak merespons aspirasi rakyat. 

Namun, ia menekankan pentingnya diskusi sebelum aksi dilakukan. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap cerdas dan tidak bertindak bodoh. Dari kasus Arie, kita bisa belajar melakukan aksi yang lebih cerdas tanpa mengorbankan apapun,” ujarnya.

[Admin/tbbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here