Gegara Kenaikan Harga BBM Nonsubsisi, Operasional Bus Sekolah Gratis di Gunungkidul Terancam Mandek
Bus sekolah gratis

Beritainternusa.com,GunungkidulKenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Dexlite berdampak pada keberlangsungan operasional bus sekolah gratis SiBona milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Gunungkidul. Apabila tidak ada tambahan anggaran menurut perhitungan dinas, anggaran yang tersedia saat ini diperkirakan hanya mampu menopang layanan hingga akhir bulan Juni.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dishub Gunungkidul mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 270.030.000 dalam APBD Perubahan 2026 guna menjaga operasional tujuh armada bus sekolah tetap berjalan hingga akhir tahun.

Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul Sigit Wijayanto mengatakan, lonjakan harga Dexlite memberikan dampak signifikan terhadap biaya operasional armada.

Kami saat ini sedang menghitung ulang kebutuhan operasional bus sekolah pascakenaikan harga BBM nonsubsidi,” katanya, Selasa (23/6/2026).

Menurut dia, harga Dexlite sempat mengalami kenaikan dari Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter, kemudian kembali naik hingga Rp 26.000 per liter pada awal Mei 2026. Kajian yang dilakukan saat harga berada di angka Rp 23.600 per liter menunjukkan operasional bus sekolah hanya mampu bertahan sampai akhir Juni.

Dengan kenaikan terbaru tersebut, tekanan terhadap anggaran operasional diperkirakan semakin besar. Sigit menjelaskan, kebutuhan operasional satu unit bus sekolah mencapai sekitar Rp 392 juta per tahun.

Anggaran tersebut mencakup pembelian BBM, servis berkala hingga pembayaran pajak kendaraan. Kalau tidak ada penambahan anggaran, alokasi yang tersedia tidak akan cukup untuk operasional sampai akhir tahun,” ujarnya.

Saat ini tujuh armada SiBona masih beroperasi melayani pelajar di berbagai wilayah Gunungkidul. Namun, layanan yang diberikan terbatas pada perjalanan berangkat sekolah pada pagi hari. Sekretaris Dishub Gunungkidul Bayu Susilo Aji mengatakan, usulan tambahan anggaran tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Besaran tambahan yang disetujui mencapai Rp 270 juta untuk kebutuhan operasional tujuh armada bus sekolah.

Kendati demikian, anggaran tersebut belum dapat digunakan karena masih menunggu pengesahan Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA). Tambahan dana itu akan difokuskan untuk menutup kebutuhan pembelian BBM.

Saat ini layanan penjemputan pulang sebagian besar dihentikan. Hanya rute Semin-Wonosari yang masih beroperasi penuh pulang-pergi, sedangkan rute lainnya hanya melayani keberangkatan pagi,” jelasnya.

Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini menilai, layanan bus sekolah gratis perlu dipertahankan karena manfaatnya sangat dirasakan masyarakat. Selain membantu mobilitas pelajar, program tersebut juga mendukung keselamatan anak saat berangkat maupun pulang sekolah.

Operasionalnya bagus dan sangat membantu untuk antar jemput anak sekolah. Keberadaan bus sekolah ini perlu dipertahankan,” tandasnya.

[Admin/rjbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here