Beritainternusa.com,Jakarta – Pengamat pendidikan Retno Listyarti mempertanyakan visi misi paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto mengenai program pemberian makan siang dan susu gratis bagi para siswa saat debat terakhir capres-cawapres, Ahad (4/2/2024) malam. Menurutnya, dengan jumlah anggaran yang minim tidak akan mampu memenuhi asupan gizi bagi para siswa.
Kalau tidak salah anggarannya hanya 1 dolar (AS), hanya Rp 15.000, bersihnya Rp 11.000 makan plus susu. (Dengan jumlah segitu) Gizi kayak apa makan Rp 11.000 plus susu? Saya menangkap ini tidak akan betu-betul meningkatkan gizi,” kata Retno dikutip dari YouTube Kompas TV, Senin (5/2/2024).
Ia menyangsikan bahwa dengan anggaran yang tetapkan nantinya para siswa justru akan mendapatkan makanan yang tidak sesuai standar pemenuhan gizi.
Jangan-jangan nanti isinya hanya mie atau hal yang nilainya mau tidak mau menjadi rendah karena pasti anggaran dipotong macam-macam, termasuk kemasan,” ungkapnya.
Retno juga mempertanyakan asal muasal dana yang akan digunakan untuk merealisasikan program makan siang gratis tersebut.
Ini diambilnya dari mana? Apakah dari dana kesejahteraan atau diambil dari dana pendidikan? Kalau diambil dari anggaran pendidikan, maka itu akan memberatkan,” tuturnya.
Karena dana pendidikan saja itu sudah untuk 24 kementerian/lembaga. Nanti kalau 24 tadi Kemendikbud dan Kemenag itu dapatnya juga tidak banyak. Lalu dipotong dengan anak-anak makan, pesantren dan lain-lain juga menyambut ini,” imbuhnya.
Padahal, dana pendidikan 20 persen itu sudah termasuk gaji guru. Dirinya khawatir dengan banyaknya tambahan tersebut dana operasional pendidikan akan semakin rendah.
Menurutnya, daripada memberikan makan siang gratis alangkah baiknya apabila meningkatkan layanan pendidikan dengan memprioritaskan anak berkebutuhan khusus.
Meningkatkan layanan pendidikan, misalnya anak-anak dengan disabilitas itu melalui terapis karena terapis belum ada di SLB,” pungkasnya.
[Admin/itbin]

