Beritainternusa.com,Gunungkidul – Pembalap Indonesia asal padukuhan Wareng 3, kalurahan Wareng, kapnewon Wonosari Gunungkidul, Veda Ega Pratama (16) berhasil membawa nama harum Gunungkidul di mata dunia. Pasalnya Veda berhasil mengukir sejarah usai back to back juara di Red Bull Rookies Cup (RBRC) Italia 2025. Veda sapaannya, menjadi pembalap Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan Sirkuit Mugello, dalam ajang bergengsi tersebut.
Buah keberhasilan Veda, ternyata tidak lepas berkat iringan doa dari kedua orangtuanya yakni Sudarmono (40) dan Meilina Hananingsih (40).
Ditemui di kediamannya di Padukuhan Wareng 3, Kalurahan Wareng, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sudarmono mengaku bangga dengan prestasi yang diukir sang anak.
Tentunya bangga dan senang ya, karena ajang ini juga menjadi salah target kemenangan juga untuk Veda. Alhamdulillah, bisa menempati podium pertama,” ucapnya.
Meskipun tidak bisa mendampingi sang anak langsung di arena balap, dirinya dan sang istri selalu menyempatkan berdoa dari rumah agar pertandingan yang dilewati Veda selalu diberi kelancaran dan hasil terbaik.
Saya kan tidak bisa langsung mendampingi anak saya di sana, cuma bisa nonton dari handphone saja. Jadi, supportnya itu lewat doa setiap akan memulai pertandingan,” tuturnya.
Kata dia, biasanya Veda sendiri juga sering menelpon kedua orangtua untuk memohon doa restu untuk dimudahkan dalam pertandingannya.
Biasanya telpon beberapa hari sebelum pertandingan atau setelah pertandingan. Kalau sudah dekat hari H, biasanya sudah fokus untuk persiapan jadi tidak bisa diganggu, kami pun tidak mau membebaninya,” ucapnya
Dia mengatakan selain meminta doa restu, biasanya Veda juga sering meminta nasihat dan masukan dari hasil pertandingannya.
Seperti yang Red Bull Rookies Cup, kemarin. Usai bertanding dia telpon tanya seperti penampilannya keren atau tidak, adakah yang kurang atau tidak. Jadi, seperti itu sering tanya- tanya hasil pertandingannya,” ucapnya.
Dia mengatakan Veda sempat mengalami patah tulang kaki saat bertanding di Portugal, hanya satu bulan sebelum seri Mugello digelar.
Cedera itu sempat membuat keluarga khawatir. Namun, dengan pemulihan ketat dan percaya diri kembali ke lintasan, akhirnya semua bisa dilewati. Alhamdulillah, bisa membuahkan hasil,” tuturnya.
Ia mengatakan atas ukuran prestasi yang didapatkan Veda ini pun bisa menjadi pemantik semangat untuk mengikuti pertandingan lainya yang kelasnya lebih tinggi.
Karena, dua Minggu ke depan, masih akan ada tanding lagi. Itu kejuaran Junior GP di Prancis, jadi harus tetap semangat karena ini kelasnya lebih tinggi lagi,” paparnya.
Jika ia berhasil masuk tiga besar klasemen akhir tahun ini, maka ia akan mendapat dispensasi khusus untuk naik ke Moto3 meski belum berusia 18 tahun.
Kalau bisa tiga besar, dia langsung naik. Tapi persaingannya berat karena semua rebutan posisi itu,” ungkap Sudarmono.
Sudarmono-lah orang yang pertama kali mengenalkan dunia balap pada anaknya Veda Ega Pratama. Hal ini tidak lepas dari profesinya yang juga mantan pembalap motor nasional pada tahun 2006-2018 lalu.
Dari usia 4 tahunan, sudah saya kenalkan dengan dunia balap motor. Dari yang 50 cc sampai motor yang mesin rumput itu mulanya. Ternyata, anaknya suka dan ada bakat juga di sana,” ucapnya.
Hal inilah yang membuat kedekatan Sudarmono dengan Veda tak hanya sebatas ayah dan anak. Akan tetapi, Sudarmono juga menjadi tempat curhat Veda ketika dirinya mengalami kesulitan baik saat pertandingan maupun hal lainnya.
Jadi, dari kecil itu komunikasi antara kita sudah saling terbuka. Jadi, kalau ada kesulitan pertandingan atau hal lainnya, selalu disampaikan. Sering komunikasi mulai dari makanan, cuaca, kesehatan, vitamin yang bagus. Ya seperti ayah juga, seperti teman juga. Jadi sudah mengalir saja,” ucapnya.
Sudarmono tahu betul untuk menjadi pembalap di kancah internasional bukanlah hal mudah. Apalagi, dirinya mengantarkan Veda sampai ke tahap ini dengan fasilitas yang sangat minim sekali.
Kami latihan hanya di sirkuit buatan di Parkir Pasar Sapi Siyono. Tentu, ini jauh dibandingkan dengan negara lain yang menghasilkan banyak pembalap dunia, seperti Spanyol, satu provinsi saja bisa punya 3 sampai 5 sirkuit. Dukungan pemerintah juga sangat besar. Maka dari itu, dukungan penuh mulai dari hal yang kecil selalu saya pantau,” ucapnya.
Dia menuturkan saat ini, Veda tinggal sementara di Spanyol, negara yang dikenal sebagai pusat pembinaan pebalap dunia. Ia mengikuti sekolah balap di sana, dengan visa pelajar.
Setiap minggu, menjalani latihan fisik, teknik motor, hingga simulasi balapan. Semua dilakukan dengan disiplin tinggi. Selain itu, Veda juga bersekolah di sana, jadi pendidikannya tetap berjalan,” paparnya.
[Admin/tbbin]
