Beritainternusa.com,Jakarta – Sekretaris Jendral Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) Fikri Haiqal Arif mengajak masyarakat patuhi hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia VIII di Bangka Belitung pada (28-31/5/2024). Hasil ijtima’ ini merupakan upaya para ulama membangun hubungan simbiotik antara hukum Islam dan negara dengan baik, bukan dengan maksud menghadirkan kekacauan di tengah keberagaman masyarakat.
Fikri, menegaskan penjelasan hasil ijtima’ tersebut sebagai hal yang bersifat penting-mendesak untuk dijelaskan kepada khalayak terkhususnya bagi umat Islam Indonesia. Menurutnya salam lintas agama bukanlah implementasi toleransi yang benar, bahkan berpotensi memburamkan akidah umat. Hal ini disebabkan salam itu sendiri mengandung unsur ubudiyah atau peribadatan dalam Islam dan demikian pula pada Agama lain.
Ia juga menjelaskan, hasil ijtima’ ini merupakan ikhtiar kolektif para ulama dalam meluruskan dan membenarkan sekaligus memberikan sandingan norma terhadap apa yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Olehnya, mari dukung upaya ulama kita. Dan secara komitmen, semangat toleransi yang kita miliki akan tetap kita jaga bersama dengan maksimal selama ia tidak masuk pada ranah yang berpotensi merusak akidah dan ibadah ritual.
Ketika diperhatikan, salam yang disampaikan memiliki makna doa kepada Tuhan masing-masing Agama. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh bermakna Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah untukmu. Om swastiyastu artinya Semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi. Namo buddhaya! Bermakna Terpujilah Sang Budha. Dan di Agama Konghuchu De dong tian Bermakna; Hanya kebajikanlah yang bisa menggerakkan Tian (Tuhan)”, terang Fikri saat menyampaikan ke media.
Pemuda asal Bulukumba yang juga member Global Peace Foundation itu menekankan, “Bahwa makna toleransi bukan dengan mencampur adukkan praktek penyembahan Tuhan masing-masing Agama. Kita sama-sama paham seberapa pentingnya hidup rukun dengan latar berbeda di Negeri ini. Akan tetapi, toleransi antar umat beragama itu menjadi subur ditengah masyarakat ketika bisa saling menghargai tanpa mendiskreditkan antar satu agama dan lainnya. Bukan malah mencampur adukkan ibadah yang ada”, tutupnya.
[Admin/itbin]


