Beritainternusa.com,Gunungkidul – Penyebaran wabah antraks menjadi salah satu momok bagi masyarakat yang menjadi peternak. Sebab, hewan ternak yang terkena antraks bisa mati tiba-tiba dan penyakit itu bisa menular ke manusia.
Sekalinya bakteri Bacillus anthracis itu berinteraksi dengan udara, maka akan menciptakan spora antraks yang tidak akan hilang meski berpuluh-puluh tahun. Spora antraks yang sudah melekat di tanah dan udara bakal bertahan lama dan membahayakan warga sekitar.
Penyebaran wabah antraks di Gunungkidul disebut-sebut terjadi karena tradisi brandu.
Apa itu tradisi brandu? Dalam tradisi brandu, warga mengumpulkan iuran untuk pemilik ternak yang sakit atau mati. Daging ternak yang sakit atau mati pun lalu dibagikan kepada warga yang mengumpulkan iuran. Tentu saja, ini menjadi sebuah alarm bagaimana daging hewan yang sakit justru dikonsumi oleh masyarakat.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul terus berupaya mencegah antraks muncul kembali. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat tanpa henti agar tidak melakukan brandu.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, DPKH Gunungkidul, Retno Widyastuti mengatakan kebiasaan brandu ini salah satu pemicu munculnya antraks.
Ya karena brandu ini yang membuat kasus antraks di Gunungkidul sulit berhenti,” kata Retno, Minggu (09/07/2023). Menurut Retno, brandu justru kerap dilakukan pada ternak yang sakit. Hal ini menjadi masalah karena ternak yang sakit bisa berdampak ke manusia jika dagingnya dikonsumsi.
Kami kerap sampaikan ke warga kalau brandu itu ya ternak sehat, jadi tidak berbahaya jika dikonsumsi,” ujarnya. Lebih lanjut, Retno mengatakan penyebaran antraks dari ternak yang sakit bisa berawal ketika proses pemotongan. Antraks yang awalnya berupa bakteri dalam darah, saat mengalir keluar bisa berubah jadi spora.
Spora Antraks inilah yang bisa bertahan puluhan tahun lamanya, baik di tanah tempat pemotongan hingga menempel di badan manusia. Spora ini bisa menyebar lagi ke ternak lainnya.
Spora ini juga bisa masuk ke manusia ketika terhirup, dagingnya dikonsumsi, atau kontak dengan cairan dari daging ke luka terbuka di tubuh,” jelas Retno.
Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.Sc., Ph.D menyarankan agar lahan tempat penyembelihan dan penguburan hewan ternak yang terpapar antraks di Gunungkidul dikosongkan.
Lahan tersebut sudah sepatutnya tidak digunakan untuk aktivitas apapun lagi. Dia menilai, di lahan itu, kemungkinan besar sudah terpapar spora yang bisa menularkan penyakit antraks.
Pemerintah, menurut dia, perlu membeli lahan tersebut agar warga tak perlu menempati atau beraktivitas di lahan dengan spora antraks.
Itu bisa dilacak matinya dimana, disembelih dimana. Pemerintah perlu mengambil alih. Tanah di situ dibeli dengan ganti untung agar tidak lagi dipakai untuk selamanya,” ungkap dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.Sc., Ph.D. dalam jumpa pers di UGM, Jumat (7/7/2023).
Nanung merinci, saat hewan terpapar antraks, di dalam darahnya akan ada bakteri Bacillus anthracis. Ketika hewan itu disembelih, maka bakteri akan ikut keluar. Jika berinteraksi dengan udara, bakteri bisa membentuk spora yang menularkan antraks. Dia mengatakan, spora bisa menempel di tanah dan bertahan hingga puluhan tahun.
Tanahnya dibeli, kemudian dibuat pagar tinggi, diberi pengumuman yang jelas kalau tanah itu daerah berbahaya karena bekas antraks,” jelasnya.
[Admin/tbbin]
