Beritainternusa.com,Jakarta – Beberapa hari lagi kita akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Sebelum masuk bulan Ramadan biasanya banyak masyarakat yang melakukan acara munggahan. Munggahan tersebut biasa dilakukan beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadan.
Acara munggahan ini umumnya dilakukan dengan acara makan-makan bersama keluarga, sanak saudara, atau kerabat dekat. Munggahan ini seolah sudah menjadi tradisi di tanah air. Lantas sebenarnya bagaimana hukum melakukan munggahan dalam agama islam?
Ada perbedaan pendapat dikalangan pemuka agama terkait hal ini. Namun sebenarnya Rasulullah SAW sendiri dikatakan tidak pernah melakukan ragam tradisi semacam munggahan maupun tradisi lain, untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Tidak terdapat pula riwayat yang menjelaskan adanya tradisi tersebut. Sehingga para alim ulama menghimbau agar masyarakat tidak melakukan tradisi semacam ini menjelang bulan Ramadan.
Namun jika munggahan dilakukan dengan tujuan untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan menjelang bulan Ramadan, hal ini tidak apa-apa untuk dilakukan.
Yang tidak boleh adalah mengkhususkan tradisi tertentu seperti contohnya munggahan ini dengan mengaitkan pada momen tertentu, yang sama sekali tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW.
Sementara itu dilansir dari NU Online, Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) PWNU Jawa Barat KH Ahmad Dasuki menjelaskan ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari tradisi Munggahan.
Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Munggahan itukan dari kata munggah atau unggah yaitu naik. Artinya, kita terutama dalam tradisi Jawa Barat ini yakni ke-Sundaan, menyimbolkan supaya kita naik level dalam rangka mendekat diri kepada Allah swt untuk mencapai derajat taqwa,” ujarnya.
Selain sebagai ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tradisi Munggahan juga merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Sebagai rasa syukur atas berbagai nikmat terutama nikmat kesehatan dan juga nikmat umur panjang sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan,” tuturnya.
Acara makan bersama yang dilakukan juga bisa menjadi ajang silaturahmi untuk saling memaafkan.
Jadi ketika kumpul-kumpul makan adalah bagian dari upaya kebersamaan dalam beribadah untuk mempersiapkan diri baik secara fisik maupun secara spiritual di dalam rangka untuk nanti sebulan penuh menjalani puasa. Selain itu, bisa jadi ajang silaturahmi untuk saling maaf memaafkan,” tambahnya.
Berkumpul bersama keluarga atau kerabat di acara munggahan juga merupakan ajang silaturahmi.
Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” Jadi ini juga bisa dijadikan sebagai bagian dari rasa syukur kita di dalam rangka memasuki bulan Ramadhan.
[Admin/lpbin]


