Salah satu sumber air yang berada di Desa Sumberejo Sudimoro

Beritainternusa.com,Pacitan – Merebaknya kasus diare di Desa Sumberejo Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan Jawa Timur memaksa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turun tangan ke Pacitan. Kemarin (5/1/2023) tim dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya mendatangi desa yang berbatasan dengan Trenggalek tersebut.

Selain melakukan penyelidikan epidemiologi dengan mengambil sampel air dari sumur milik salah seorang warga, mereka juga menyelenggarakan sosialisasi terkait pencegahan kasus diare di balai desa.

Selain karena bakteri e-coli, kami menduga adanya virus dalam air sumur warga,’’ kata Kabid Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) pada Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, dr Teguh Mubawadi.

Meski demikian, pihaknya belum berani menyimpulkan. Untuk mengetahui lebih jelasnya, sampel air yang sempat diambil dari salah satu sumur warga akan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kami simpulkan (sementara) penyebab utama penyakit ini karena virus, tapi kami akan pastikan dulu di laboratorium Intitute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga,’’ terangnya.

Teguh mengungkapkan berdasarkan dari hasil studi kasus, dugaan adanya virus dalam air sumur warga memang menguat. Sebab, banyak warga di satu desa yang terserang diare secara massal dalam periode waktu tertentu. Menurutnya, kondisi serupa pernah terjadi pada Juni 2022. Saat itu, terdapat 70 warga yang terkena diare. Tapi kami belum pastikan virusnya jenis apa,’’ ujarnya.

Selain diduga karena pengaruh virus, dia juga menyoroti mengenai masalah lingkungan di Desa Sumberejo. Pasalnya, sumber-sumber air di rumah warga di desa itu berdekatan dengan letak kandang ternak serta toilet.

Hal tersebut dianggap memperparah kasus penularan. Karena sumber air dalam tanah berpotensi bercampur dengan kotoran hewan yang terbawa aliran sungai dan hujan. Itu diperkuat dengan temuan kami bahwa semakin ke bawah (sungai) jumlah warga yang terjangkit juga tinggi. Artinya ada indikasi penyakit mengikuti aliran,’’ jelas Teguh.

Teguh menambahkan meski kasus penularan kini cenderung menurun, tapi skema pencegahan tetap perlu dilakukan Pemkab Pacitan. Misalnya dengan menerapkan metode chlorine diffuser. Nah, cara pengolahan air bersih yang tepat guna semacam itu perlu dipaparkan kepada kader kesehatan, RT, kepala dusun (kasun) dan warga desa setempat.

Dia mengungkapkan metode ini seperti mencampurkan kaporit dan pasir ke dalam botol. Setelah itu diendapkan ke sumur atau bak penampungan air sedalam satu meter selama satu minggu. Dengan begitu, akan awet dan tidak berbau. Berbeda kalau klorin hanya ditaburkan langsung ke sumber air tentu akan menimbulkan bau yang menyengat,’’ jelas Teguh.

[Admin/rmbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here