Senyum Sri Hartini. Kartini Gunungkidul sang penjaga hutan adat

Beritainternusa.com,Gunungkidul – Terhitung sudah belasan tahun, Sri Hartini mengemban tugas sebagai Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi, di Kapanewon Ngawen, Gunung Kidul. Ia memangku tanggung jawab tersebut, meneruskan ayahnya Sudiyo, yang meninggal dunia tahun 2011 silam. Dengan tanggung jawab besar dalam mengemban tugasnya yang mulia ini maka tidaklah berlebihan jika ia disebut sebagai Kartini Masa Kini.

Awalnya saya ragu, apakah bisa saya menggantikan Bapak. Tapi beliau sendiri yang meminta saya sebelum meninggal,” kata warga asli Pedukuhan Duren, Kalurahan Beji, Ngawen, di mana Hutan Wonosadi berada, pada Rabu (20/04/2022).

Ibu 2 anak ini awalnya sempat menolak tawaran tersebut ketika diminta oleh lurah setempat. Namun akhirnya, ia menyanggupi permintaan tersebut setelah berbagai pertimbangan. Yang jadi bahan pertimbangan terkuat keputusan tersebut adalah permintaan ayahnya sendiri.

Sri bahkan menyebut ayahnya sudah membimbing sejak jauh hari, memberinya ilmu hingga seluk-beluk terkait hutan adat tersebut. Wanita kelahiran 13 Agustus 1968 ini mengaku sudah tidak asing dengan Hutan Wonosadi.

Pasalnya, sejak kecil ia terbiasa menemani ayahnya mengelilingi hutan yang memiliki luas sekitar 25 hektare (ha) itu. Mungkin dari situ Bapak merasa saya cocok menggantikannya sebagai Penjaga Hutan Adat Wonosadi,” kata anak ketiga dari 4 bersaudara tersebut.

Namun, tantangan Sri sebagai pengganti ayahnya tak berhenti disitu. Sebab ia sempat menjadi satu-satunya wanita dalam kelompok Jagawana Ngudi Lestari Wonosadi. Total ada 25 orang dalam kelompok ini, mayoritas pria dan sepuh usianya.

Tapi mantan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini tetap tegar, ia bahkan mampu menarik anggota-anggota baru ke kelompok. Salah satunya kepala dusun sini yang juga wanita, itu saya tarik untuk ikut bergabung,” ujar Sri.

Ayahnya merintis Hutan Adat Wonosadi ketika kondisinya memprihatinkan, nyaris gundul hanya tersisa 4 Pohon Asem yang tumbuh asli di situ. Pada era 1965, ratusan pohon dibabat habis demi keperluan pribadi dan ekonomi warga.

Berkat jerih payah Sudiyo lah, Hutan Wonosadi kembali rimbun dalam kurun waktu dua dekade. Kini, Sri yang meneruskan upaya ayahnya tersebut dengan caranya sendiri.

Menurutnya, komunikasi adalah yang paling penting. Termasuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan memiliki yang besar oleh warga setempat pada hutan tersebut.

Saya arahkan mereka agar ada rasa memiliki, agar hutan tetap lestari sekaligus menjaga tradisi dan kesenian lokal di sini,” kata Sri.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, awalnya ia berat melakoni tugasnya sebagai penjaga hutan hingga hadir untuk keluarga. Beruntung, dua anak serta suaminya mendukung penuh niat mulia Sri. Kini yang ia butuhkan adalah regenerasi penjaga-penjaga hutan baru.

Usianya dan anggota lainnya sudah senja, sehingga ia berupaya agar ada pengganti dari yang lebih muda, termasuk dari anak-anaknya sendiri.

Sebab Sri tetap ingin memegang penuh amanah ayahnya sebagai penjaga pertama Hutan Adat Wonosadi. Ia juga yakin, kelestarian hutan akan berdampak baik pula bagi kehidupan masyarakat ke depan, khususnya kebutuhan air.

Jangan tinggalkan air mata, tapi tinggalkan mata air untuk anak cucu kita’, itu pesan Bapak yang selalu saya ingat sampai sekarang,” ujarnya.

[Admin/tbbin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here