5 pemuda pengedar pil koplo di tangkap polisi

Beritainternusa.com,Gunungkidul – Sebanyak 5 pemuda diamankan oleh aparat Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Gunungkidul.

Karena mereka kedapatan menyimpan ribuan pil koplo yang tergolong obat-obatan terlarang.

Kasat Reskoba Polres Gunungkidul AKP Dwi Astuti Handayani mengatakan kasus tersebut terungkap dari proses penyelidikan hingga informasi yang diperoleh dari masyarakat.

Kelimanya berasal dari Kalurahan Pengkol, Nglipar, kata Astuti pada wartawan, Kamis (29/07/2021).

Lima tersangka ini adalah AG (25), AS (21), AM (22), EH (21) dan EG (25). Tersangka yang pertama terungkap adalah AG, yang kedapatan menyimpan 439 butir obat yang juga dikenal sebagai pil sapi.

Lewat keterangan dari AG, aparat lalu memburu dan mengamankan 4 tersangka lain. Total barang bukti pil koplo yang diamankan mencapai 3 ribu butir.

Menurut Astuti, kelimanya merupakan satu kelompok. Mereka terlibat dalam aktivitas peredaran obat-obatan terlarang setidaknya dalam setahun terakhir.

Salah satu tersangka membeli pil sapi secara online, kemudian dibagikan ke teman-temannya untuk dijual lagi,” jelasnya.

Menurut keterangan tersangka, pil dibeli seharga Rp 400 ribu sebanyak 1.000 butir. Kemudian kembali dijual dalam bentuk satu paket berisi 10 butir, seharga Rp 25 ribu.

EG disebut membantu aksi penjualan pil sapi, sedangkan 4 orang lainnya dianggap telah menjual obat-obatan keras tanpa memiliki izin edar. Namun, kelima tersangka tetap dijerat pasal yang sama.

Kelimanya dikenai Pasal 60 butir 10 UU Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja dan Pasal 197 juncto Pasal 106 UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan. Seluruhnya kini juga menjalani penahanan di Mako Polres Gunungkidul.

Seluruh tersangka terancam pidana maksimal 15 tahun penjara,” kata Astuti.

Kasubbag Humas Polres Gunungkidul Iptu Suryanto mengingatkan kepada masyarakat agar mewaspadai peredaran pil koplo ini. Pasalnya, bisnis pil koplo masih marak dan menjanjikan keuntungan bagi pelakunya.

Ia mengatakan pil ini bisa didapat dengan harga yang terjangkau, dengan sasarannya adalah masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Pun begitu, tindakan ini tetap dinilai melanggar hukum.

Secara kesehatan juga bisa berbahaya karena tidak disertai dengan resep dokter untuk penggunaannya,” kata Suryanto.

[Admin/tb]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here