situs song pedang Girikarto Panggang Gunungkidul

 

Beritainternusa.com,Gunungkidul – Sekilas tidak ada yang istimewa dari tebing karang putih yang berada di Pedukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Panggang, Gunungkidul itu.

Memiliki tinggi sekitar 15 meter, dasarnya membentuk ceruk yang agak menjorok mendalam.

Namun di dasar tanahnya banyak ditemukan benda yang kurang lazim; kulit-kulit kerang bertebaran.

Padahal, posisinya terbilang jauh dari tepi laut.

Lahan sekitarnya pun cenderung hijau dengan perkebunan warga.

Priyadi (36), warga setempat mengatakan ada banyak ceruk tebing serupa di sekitaran situ.

Namun hanya Song Pedang, nama tempat tersebut, yang memiliki keunikan tersendiri.

Kalau yang lain ya berupa ceruk atau bahkan gua karst putih seperti ini. Tapi cuma di Song Pedang ini ditemukan banyak bekas kulit kerang,” tutur Priyadi pada awak media, Kamis (22/10/2020) lalu.

Keberadaan Song Pedang sendiri sudah lama diketahui warga setempat.

Meski tak pernah difungsikan secara khusus, Priyadi mengatakan ada banyak cerita rakyat yang beredar mengenai situs tersebut.

Paling umum yang diceritakan adalah bahwa Song Pedang dulunya bekas dasar laut.

Namun ada pula yang mengatakan jika situs ini berkaitan dengan kisah kerajaan zaman dahulu, terutama dari zaman Majapahit.

Kalau menurut ceritanya, ada peninggalan kerajaan di sini. Seperti emas atau semacam itu,” kata Priyadi.

Nama Song Pedang sendiri diberikan lantaran konon tempat itu dijadikan orang untuk bertapa demi mendapatkan pedang emas, namun tak pernah ditemukan.

Selebihnya, dikatakan tempat ini jadi persinggahan bagi mereka yang berlindung dari perang.

Bahkan ada yang menyebut Song Pedang jadi salah satu lokasi persembunyian harta Majapahit terbesar. Alhasil, Priyadi menyebut ada orang-orang dari luar yang ingin menguak harta tersebut. Namun warga setempat tidak mengijinkan.

Priyadi sendiri memilih menggunakan akal sehat.

Menurutnya, bisa jadi dulu memang ada peninggalan dari kerajaan tersebut di sini.

Namun kemungkinan besar benda-benda tersebut banyak terpendam karena orang-orangnya lebih memikirkan cara bertahan hidup.

Ya kalau dalam kondisi lari bersembunyi, benda-benda itu kan tak terpakai. Bisa jadi mereka lebih memilih memendam lalu menanam bahan pangan untuk kebutuhan,” ujarnya.

Kendati ceritanya simpang siur, situs Song Pedang rupanya sempat jadi obyek penelitian tim Badan Arkeologi Yogyakarta pada 2019 lalu.

Priyadi mengatakan penelitian tersebut berlangsung selama 2 pekan.

Penanggungjawab Penelitian Song Pedang, Rizka Purnamasari membenarkan adanya penelitian tersebut.

Berdasarkan kajian selama Juli-Agustus 2019, ada banyak temuan arkeologis dari situs itu.

Bisa disimpulkan Song Pedang dulunya digunakan sebagai hunian tetap jangka panjang, bukan basecamp untuk perburuan,” kata Rizka dihubungi secara terpisah.

Menurutnya, ada temuan arkeologis berupa fragmen gerabah, lancipan tulang, spatula, serpih, sisa-sisa tulang hewan, sisa-sisa kerang, serta fragmen tengkorak dan rahang manusia.

Lancipan tulang yang ditemukan diduga berasal dari tulang spesies Macaca sp., atau primata sejenis kera.

Sementara untuk kerang sendiri, Rizka mengatakan kulit kerang yang banyak ditemukan adalah jenis kerang hijau.

Sisa-sisa ini mendominasi di antara jenis kerang laut lainnya di Song Pedang.

Ia mengatakan temuan di Song Pedang menambah panjang daftar bukti mengenai kehidupan masa prasejarah di kawasan Karst Gunung Sewu.

Sebelumnya, temuan serupa juga didapatkan di Pacitan, Jawa Timur dan Kapanewon Rongkop.

Situs Song Pedang ini setidaknya bisa menjawab bagaimana gambaran kehidupan prasejarah Gunung Sewu bagian barat,” kata Rizka

[Admin/tb]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here