ilustrasi

Beritainternusa.com,Jakarta – Indonesia yang berada di wilayah lingkaran rawan bencana membuatnya rentan terkena bencana gempa dan tsunami. Catatan sejarah menjadi salah satu sumber berharga untuk mengenali bencana yang sulit diprediksi kapan terjadinya.

Berdasarkan katalog gempa bumi merusak dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tsunami di selatan Jawa terdapat 11 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempa bumi.

“Beberapa pemodelan, di pesisir selatan Jawa, waktu tiba gelombang tsunami ke daratan sekitar 20 menit. Jadi ketika ada peringatan potensi tsunami, masyarakat di pesisir pantai mempunyai waktu kurang dari 20 menit untuk evakuasi,” kata Kasubid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG, Akhmad Solikhin, saat dihubungi, Sabtu (26/9/2020).

Berikut wilayah yang pernah dilanda tsunami di selatan Jawa:
– Tsunami Banyuwangi (1818)
– Tsunami Bantul (1840)
– Tsunami Tulungagung (1859)
– Tsunami Kebumen (1904)
– Tsunami Jember (1921)
– Tsunami Pangandaran (11/09/1921) pukul 15.19 WIB
– Tsunami Banyuwangi (1925)
– Tsunami Purworejo (1957)
– Tsunami Banyuwangi (03/06/1994)
– Tsunami Pangandaran (17/7/2006)
– Tsunami Jawa Barat Selatan (02/09/2009) pukul 14.55 WIB

Pada dekade 1990-an dan 2000-an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo 7,2 dan menyebabkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan.

Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan korban lebih dari 550 orang meninggal, ratusan orang luka-luka di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah akibat tsunami. Tsunami melanda pantai Pangandaran, pantai Kebumen, pantai Cilacap, pantai Samas, pantai Parang Tritis Yogyakarta, runup ± 1 – 6 meter, inundasi ± 100 – 400 m.

Sejarah juga mencatat Tsunami Jawa Barat Selatan mengakibatkan 82 orang meninggal, 21 orang hilang, 1.252 orang luka-luka, 210.292 orang mengungsi di Jawa Barat. 64.413 rumah rusak berat, 134.294 rumah rusak ringan, 490 sekolah roboh. Bencana terparah di pantai selatan Jabar. Tsunami dengan tinggi run up kurang lebih 1 – 2 meter di pantai Pameungpeuk.

Akhmad mengatakan ada satu peneliti dari PVMBG yang pernah melakukan riset tsunamigenik di Selat Sunda dari hasil kajian katalog tsunami Soloviev. Satu peneliti tersebut yakni Yudhicara dari PVMBG dan satu lagi peneliti K. Budiono dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.

Dalam riset keduanya, disebutkan bahwa sumber tsunamigenik di perairan Selat Sunda dapat diakibatkan oleh gempa bumi yang berkaitan dengan subduksi Sunda, erupsi gunung api bawah laut Krakatau, longsoran di pantai, dan longsoran bawah laut di sekitar Selat Sunda.

PVMBG juga pernah melakukan kajian endapan tsunami di beberapa daerah Selatan Jawa. Dikutip dari lipi.go.id, kajian endapan tsunami atau penelitian tsunami yang terjadi di masa lampau (paleotsunami) dapat digunakan untuk mengetahui waktu perulangan terjadinya tsunami.

“Penyelidikan endapan tsunami ini menggali dan mencari endapan tsunami yang terjadi pada masa lampau melalui pembuatan paritan. Ketika ketemu endapan tsunami, kemudian dianalisis untuk mengestimasi kapan tsunami tersebut terjadi,” katanya.

“Dari hasil penyelidikan endapan tsunami di Purworejo dan Gunung Kidul, kita menemukan endapan tsunami yang berkorelasi di 2 lokasi tersebut dan diperkirakan terjadi pada 550-640 tahun yang lalu,” ucap Akhmad menambahkan.

Upaya mitigasi bencana tsunami juga terus diupayakan dengan penataan ruang di kawasan rawan bencana yang memperhitungkan potensi bahaya tersebut. Akhmad menyebut beberapa lokasi di selatan Jawa sudah tersedia peta kawasan rawan bencana Tsunami skala yang cukup detail.

“Masyarakat harus mengetahui tanda-tanda terjadinya tsunami, dan harus evakuasi diri ke mana ketika ada peringatan potensi tsunami,” ujar Akhmad.

Dia mencontohkan salah satu daerah di selatan Jawa, BPBD dan pihak lain sudah sosialisasikan soal ‘3×20’. “Yaitu jika terjadi gempa bumi dengan durasi guncangan lebih dari 20 detik (artinya gempa yang besar), berarti masyarakat di pesisir pantai punya waktu 20 menit untuk lari ke suatu tempat dengan ketinggian lebih dari 20 meter dari permukaan laut,” tutur Akhmad.

[Admin/dt]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here