Cerita Surya Anta di Rutan Salemba

Beritainternusa.com,Jakarta  – Bendera berlogo Bintang Kejora berkibar persis di depan Istana Negara, Rabu 28 Agustus 2019. Bendera yang identik dengan gerakan Papua Merdeka itu memang dilarang di Tanah Air.

Adalah Komite Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Mileterisme yang mengibarkan bendera tersebut. Mereka sedang demo, menuntut referendum memisahkan diri dari NKRI.

Polisi pun bergerak. Menangkap delapan orang yang merupakan juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI West Papua), salah satunya adalah Surya Anta Ginting.

Surya kemudian ditangkap, Sabtu 31 Agustus 2019 malam di sebuah pusat perbelanjaan. Dia langsung dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok atas tuduhan makar.

Surya dibawa ke meja hijau. Dia divonis 9 bulan penjara. Surya dan rekan-rekannya dijerat Pasal 106 dan 110 KUHP tentang Makar.

Dua bulan setelah menghirup udara bebas, Surya kembali bikin heboh. Dia menceritakan sejumlah ‘bisnis’ di Rutan Salemba. Dia juga membagikan foto-foto kondisi tak layak Rutan. Baginya, hidup di Rutan bagai hutan rimba, siapa yang kuat membayar, dia yang menang.

“Saat hari pertama masuk penampungan kami di OT IN (Dimintai Uang) oleh tahanan lama. Saya diminta 1 juta di lapak Palembang. @Dano_Tabuni diminta 3 juta di lapak Lampung. Akhirnya kami berlima bayar Rp 500 ribu karena setelah para tahanan lain tahu kalau kami ini aktivis bukan anak pejabat,” isi kicauannya.

Awakmedia pada Rabu (15/7), menghubungi Surya Anta untuk mengisahkan lebih detil pengalamannya selama 9 bulan mendekam di Rutan Salemba.

Bisa ceritakan pengalaman Anda di Rutan Salemba?

Itu tahun 2019-2020 saya keluarnya tanggal, saya masuk Salemba 18 November 2019, keluar Salemba 26 Mei 2020 jadi baru 2 bulan saya keluar. Saya belum 2 bulan keluar

Kondisinya seperti apa?


Kondisi waktu saya datang tanggal 18 November itu saya dari Mako Brimob dipindahkan dari kejaksaan, dari Kejaksaan kami berlima, yang perempuan ke Pondok Bambu yang laki-laki kami berlima ke Rutan Salemba.

Kemudian pertama kami di garasi pemeriksaan barang-barang sudah barang-barang diambil sabun, Sampo, obat, kemudian kami naik ke kamp 1 istilah di sana ya. Kamp 1 juga pemeriksaan, kemudian sosialisasi, kemudian pendataan.

Seluruh badan termasuk buku-buku, isi baju diperiksa sama mereka, yang periksa ini Pramuka, Pramuka ini napi juga. Kemudian dari kamp 1 ke register, kita turun di register, pendataan, pendataan berat badan, kemudian foto, tanda tangan, cap tiga jari. Dari register kita ke kamp 2, di kamp 2 kita disuruh jalan kaki dibatu-batu buat akupuntur itu, terus kita didata surat penahanan, surat pelimpahan jaksa.

Apa lewat batu itu wajib?

Nggak tahu, tapi wajib dan kita jalan di situ berbaris dari tangan kita sebelah kanan di bahu teman kita di depan, yang belakang di bahu kita, tangan kiri angkat barang yang kanan itu megang teman kita kaya berbarislah.

Siapa yang perintahkan itu?


Petugas sama Pramuka namanya polisi lapas, bawa barang kita, tapi sebagian barang kita kan sudah disortir sama mereka diambilin. Sendal bahkan ada uang diambil sama mereka, kalau kami tidak diambil uangnya kalau yang lain diambil uangnya.

Apa alasan uang aman, apa karena Anda aktivis?


Kemungkinan begitu ya kami tidak tanya. Sampai di kamp 2 ini Pamdal istilahnya, kamp 1 dan kamp 2 Pengamanan Dalam. Di kamp 2 kita dibotakin terus kita bilang kami menolak dibotakin karena kami tahanan politik. Kalau gitu sudah tapi kamu sampaikan kalau kamu tahanan politik. Cuma kami berlima yang nggak dibotakin. Saya ngotot kami tahanan politik. Nggak ada perbedebatan, kemudian petugas foto kita, kemudian petugas bilang kalau ditanya kenapa tidak dipotong kamu sampaikan.

Siapa yang tanya?

Iya sama penghuni sama pimpinan. Kemudian kami ke Penaling masa pengenalan lingkungan atau barak penampungan ya, waktu kita masuk tepuk tangan semua napi di dalamnya, kaya ayam gitu tepuk tanganin masuk kita berbaris lagi. Terus kalau foto yang saya kirim itu, kita berdiri di bawah TV itu kita dikerumuni, kami pikir mau dipukulin ternyata bukan dipukul, ternyata kita dilotre.

Maksudnya lotre?


Dilotre itu setiap ketua lapak itu ada nomor siapa yang ngambil tahanan baru duluan, terus saya diambil, ditarik saya tuh mana bawaan saya banyak buku, baju kotor, baju bersih, bantal dari Mako Brimob saya bawa.

Saya ditarik dibawa lapak Palembang. Nah lapak Palembang ini saya diberitahu ‘selamat datang’ bahwa mereka bilang kita butuh hidup bersama di sini, kemudian dia bilang ada uang kebersamaan istilahnya. Istilah halusnya uang kebersamaan.

Saya kaget itu dan saya baru tahu itu uang OT itu kalau dibilang uang bersamaan, tapi kalau jadi orang lama itu orang OT-an. OT itu orang tahanan ya. Terus saya diminta Rp1 juta, Dano teman saya ditarik ke lapak Lampung minta Rp3 juta, yang lain juga diminta Rp1 juta.

Kemudian saya bilang kami ini aktivis kami tidak punya uang, barulah kaget. Saya bilang ini kalau kami minta besar-besaran bisa heboh di media, adalah yang sadar jangan minta besar-besar karena aktivis berjuang untuk rakyat.

Ada yang bilang gitu napi narkoba bilang gitu bagus juga, ketua lapak dikumpulin sama pengurus lama juga dikumpulin di lapak musala, disepakati harganya Rp500 ribu. Kami semua kami berlima, per orang (Rp500 ribu).

Terus habis itu mereka minta bayar sekarang, saya bilang kami nggak ada harus nunggu kunjungan dulu, bisa kok, bisa dihubungi bisa di SMS, kaget juga kan kok ada SMS ada HP, terus gimana ngirimnya? Dari lantai 3 katanya.

Terus lantai 3 itu ada bisnis transferan. Kebetulan uang saya aman nggak diambil, karena saya sembunyikan di baju-baju, dan malam itu saya bayar Rp500 (ribu) itu. Terus malam itu saya tidur di lapak Palembang, tetapi di sudut saya lihat orang mondar mandir ngapain, saya lihat ada bolong ada tali rapia, turun naik turun naik itu. Di situ saya baru tahu bahwa bolongan itu untuk transaksi sabu. Apa saja lah, sabu, dari lantai 2, kemudian handphone, jual beli handphone juga, ganja juga tergantung permintaan juga.

Itu siapa yang jual?


Yang jual PSK, penjual sabu keliling.

PSK itu maksudnya Tahanan juga?


Tahanan, napi, tahanan lama atau napi lah.Kemudian di penampungan itu orang Palembang dan yang boleh bertransaksi itu orang PLG dan orang Arek, Arek itu Jawa Timur. Jadi di sana itu ada berapa suku ya, Lampung, Korea, Korea itu Batak, Arek kemudian Palembang.

Di sana juga ada lapak berdasarkan daerah di Jakarta ini kaya Barpus barat pusat, Tanah Tinggi, Cengkareng, Boncos. Saya sebutkan ya lapak Palembang, lapak Korea Batak, Boncos, Lampung, Tanah Tinggi, Cengkareng, Barpus. Ada lapak musala, dan adalah lapak paling menderita dari semua penderitaan ini adalah lapak buaya. Lapak buaya ini anak ilang yang nggak sanggup bayar uang kebersamaan alias OT itu.

Bisa dijelaskan, Lapak Buaya tinggalnya sebelah mana?

Tidur di depan WC itu, jadi mereka ini pekerjaannya kalau ada nasi cadong, mereka bagi-bagi nasi cadong ke setiap lapak. Kalau ada ubi dia bagi-bagi jadi setiap lapak ngasih uang Rp25 ribu lapak buaya, jadi lapak buaya ini orang ilang lah. Di depan lapak buaya ini WC, jadi kalau orang lagi makan, depan lagi boker dia bisa lihat lah.

Nah di depan itu tempat nembak air, jadi kalau kita nyeduh kopi, bikin teh, butuh air panas nyeduh Indomie kan botol Aqua itu diisi air, kemudian pantat botol Aqua itu dibakar pake plastik, airnya nyebur kemana-mana, padahal negara bisa beli 4 atau 5 pemanas air itu.

Saat Anda keluar, apa kondisi masih seperti ini?

Ya sudah kosong karena Rutan Salemba tidak menerima tahan baru, karena Covid.

Karutan Salemba bilang Anda hanya iseng posting itu di Twitter?


Saya klarifikasi dulu ya yang video call itu dia. Jadi 2 malam yang lalu saya diwawancari jurnalis. Habis interview saya, ternyata dia ketemu Karutan kasihlah nomor saya ke karutan. Pada saat mereka bertemu itu karutan telepon saya, kemarin pagi sampai siang karutan video call ke saya tetapi tidak saya angkat.

Kemudian setelah saya dengar penjelasan dari jurnalis itu. Jadi yang video call saya itu jurnalis, akhirnya kemudian terus aku bilang, kalau ketemu karutan jangan marah, saya nggak nyerang dia, di Twitter saya nggak nyerang dia, saya membongkar sistem yang ada dari hulu ke hilir.

Baru setelah malam jam 10 saya bikin twit itu, teman saya bilang ini karutan bisa dicopot, kagetlah saya. Makanya, saya bilang saya tidak bermaksud menyerang dia, dan saya apresiasi. Saya bilang saya nggak enak sama bapak, saya khawatir bapak dicopot, tapi harus diapresiasi saya akui ada usaha dia untuk perbaiki rutan itu.

Satu beliau melockdown Salemba lebih cepat dari rutan dan lapas lain, displin dia. Kedua, ada bagian yang samping klinik itu sebelum dia nggak bisa dimasukin. Kalau ada yang mengatakan kalau ruang itu dipakai oleh napi koruptor saudara gubernur Sumut Syah syah (lupa) ini, nah setelah dia masuk dibongkar dan dijadikan diperbaiki untuk pemeriksaan.

Bukan bangsal klinik beda lagi buat pasien tidur. Yang ketiga dia itu sering turun blok sosialisasi-sosialisasi dan menyapa para tahanan, aktif. Kemudian dia memperbaiki taman, memperbaiki mengecat jalan atau lapangan dia lakukan. Jadi ada usaha dia dan dia juga tanggal 12 Mei seharusnya kami bebas asimilasi, tanggal 11 Mei dia ikut memastikan kita surat eksekusi vonis kita diurus atau nggak.

Ini kan sementara surat eksekusi vonis yang bikin lama di jaksa dan pengadilan. Maksud kita ada usaha dia harus apresiasi. Yang jadi khawatiran aku dia bahwa ini yang maksud untuk lebih konperensif jadinya orang menyerang personal dia. Maksudku begitu, jadi aku tuh udah minta maaf. Aku minta maaf kalau ini berpotensi mencopot dia.

Padahal bukan ke situ, aku nggak bicara personal, ini masalahnya dari dulu dari kepolisian juga main masuk-masukin saja sehari Jakarta barat bisa masukin 40 orang, sementara yang turun blok hanya 30 orang.

Seperti itu, saya tidak video call dia dan dia juga ngajak makan malam, saya bilang saya belum mau kalau sekarang ini, kapan-kapan saja saya bisa dituduh macam-macam. Memang saya buat ini spontanitas saya, jadi awalnya saya postingkan di Instagram saya, di Facebook saya, di Instagram story Saya, di Facebook story Saya, lalu saya ini kan sebenarnya sudah punya Twitter 10 tahun, tetapi Twitter saya aktif saya urus baru 2 bulan ini karena permintaan teman-teman, main Twitter lah. Terus saya terpikir kenapa nggak taruh di Twitter, kemudian saya bikinlah thread pertama saya seumur hidup.

Saya tegaskan ke teman-teman kita fokusnya bukan personal, kita fokusnya bagaimana pembenahan dari hulu sampai hilir, KUHP itu tugasnya menjarain orang, RUU KUHP lebih penjarain. Masa gara-gara judi 200 bisa penjara 2 bulan habisin uang negara saja.

Beli paket Rp50 ribu ganja atau sabu itu kan isinya yang begitu-begitu di penjara, akibatnya penuh. Orang yang seharusnya masuk pasal 127 undang-undang narkotika itu masuknya 114. Kenapa? Karena untuk bisa lolos 127 di kepolisian atau kejaksaan ‘hepeng’ yang masuk bang. Saya mendengarkan curhat-curhat mereka.

Foto di Rutan pakai HP siapa?


Foto di penampungan itu Ambrose (Teman Surya Anta). Dia beli (di Rutan) Rp400 (ribu) kalau nggak salah

HP banyak di dalam?


Macam-macam, tapi rata-rata HP second semua, HP baru hari 4G istilahnya. Uang kodinya Rp300 ribu lah

Buat petugas?


Iya

Karutan Salemba Klarifikasi

Namun, Kepala Rutan Salemba Salemba Renharet Ginting meluruskan. Apa yang diceritakan oleh Surya terjadi sebelum eranya masuk memimpin. Kini menurut dia, kondisi Rutan Salemba sudah jauh lebih baik.

“Kondisi di tahun 2019 saya sendiri kurang tahu di tahun 2019 itu, karena bukan saya (menjabat). Kalau kondisi sekarang bisa teman-teman lihat di sini sekarang, jadi jauh (sudah berubah) karena kita ada protokol kesehatan ini protokol Covid dan sangat berubah. Isinya juga sudah berkurang 1.200. Selama saya di sini isinya sudah kurang 1.200. Kalau dimasa 2019 isinya 4.400, sekarang isinya tinggal 3.000, jadi kita menata dalam arti sudah bagus semua itu,” bebernya.

Kendati demikian, dia tak menutup mata dan telinga akan kritik yang disampaikan Surya Anta. Dia berjanji akan menelusuri apa yang telah disampaikan oleh Surya Anta.

[Admin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here