petani milenial Pacitan

Beritainternusa.com,Jatim – Buat sebagian besar anak muda, bekerja dengan gaji tinggi atau menjadi pegawai negeri adalah pilihan utama. Terlebih buat para mahasiswa yang baru lulus. Tetapi hal ini tidak berlaku buat generasi milenial asal Pacitan, Sirrun Najwa Azelia (23). Ia memilih menjadi petani dengan menekuni tanaman hidroponik.

Sirrun Najwa Azelia memang memiliki cita-cita berbeda. Sejak dibangku kuliah, ia sangat ingin membantu petani di kampung halamannya, Desa Semanten, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan.

Bahkan, anak kedua dari pasangan Fauzan dan Siswati ini mengaku telah menyiapkan konsep aktivitasnya sejak masih kuliah di Politeknik Pertanian Malang (Polbangtan) Malang. Namun, baru setelah lulus ia bisa wujudkan keinginannya. Atau setelah mendapatkan fasilitasi modal usaha dari Kementerian Pertanian melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP).

Sirrun, merupakan salah satu dari sekian banyak generasi milenial yang terpilih menerima stimulus modal Rp 35 juta dari Kementan untuk Percepatan Regenerasi Petani. Bermodalkan dana tersebut, ia mulai merealisasikan gagasannya dengan mendirikan WEPTA Farm yang merupakan kepanjangan dari Wahana Edukasi Peduli Petani. Usahanya ini dimulai dengan membuat sistem pertanian hidroponik untuk budidaya sayuran.

“Melihat produk sayur pasar tradisional, khususnya di Pacitan, masih saya jumpai kualitas yang rendah, layu dan banyak yang belum bebas dari pestisida. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa WEPTA Farm harus ada,” ujar Sirrun, Selasa (12/05).

Bisnis ini dilakukan bersama 2 rekannya. Hanya saja, Sirrun mengaku tak pernah membayangkan bagaimana cara memasarkan produknya nanti. Bahkan, ia sempat ragu apakah produk hidroponiknya bisa laku dan diterima pasar.

Namun, dalam satu kali siklus produksi dengan populasi sekitar 300 lubang tanam, Sirrun bisa membuktikan panen sayur hidroponik dengan hasil yang bagus. Ada selada keriting, sawi daging (pakcoy), sawi caisin, bayam merah merupakan jenis sayuran yang ternyata sangat diminati oleh costumer lokal.

“Saat ini saya sudah punya pelanggan ibu-ibu rumah tangga, ada juga penjual burger yang sudah menunggu jadwal panen. Sebagian dari mereka datang untuk mengambil pesanannya dengan petik sendiri, tapi ada juga pesanan costumer yang saya antar langsung,” ujar sarjana pertanian alumni Polbangtan Malang ini.

Semakin bertambahnya pelanggan WEPTA Farm, tidak terlepas dari testimoni dari para pelanggannya. Mereka menilai produk sayur hidroponik dari WEPTA Farm ini lebih segar, awet dan tidak mudah layu, serta bebas pestisida.

Selain itu, harganya pun sangat kompetitif dibanding sayur daun di pasar tradisional Minulyo Pacitan yang rata-rata di-supply dari luar kota, seperti Plaosan, Sarangan, Magetan bahkan dari Karang Anyar Jawa Tengah. Sehingga, selain sudah cenderung tidak segar juga harganya pun jadi mahal.

Seperti selada keriting yang dihargai Rp 24 ribu per kilo. Sementara WEPTA Farm membandrol dagangan serupa dengan harga Rp 22 ribu sampai diterima end costumer, bisa juga melayani pesanan secara online.

Menurut Sirrun, selama 6 bulan memulai usaha hidroponiknya ini, ia masih ingin fokus untuk mempertahankan kontinuitas produksi dan mengatur pola tanam. Agar, setiap minggu selalu bisa panen dengan target keuntungan Rp 120 ribu dari omzet penjualan per minggu.

Namun, Sirrun juga tidak ingin menyia-nyiakan peluang lain yang muncul. Ia juga merambah usaha jual beli bahan dan peralatan hidroponik untuk melayani kebutuhan warga sekitar yang mulai tertarik budidaya tanaman dengan sistem hidroponik.

“Ini yang membuat saya awalnya ragu, tapi akhirnya bikin senang juga dan ternyata bagi saya bertani secara hidroponik ini semakin menarik,” pungkas pengusaha tani milenial yang juga guru pembantu disebuah TPA di Pacitan ini.

Langkah Sirrun ini, sejalan dengan harapan Menteri Pertanian bahwa generasi milenial harus berani menjadi seorang petani atau mendirikan start up di bidang pertanian. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab milenial mulai sadar bahwa pertanian adalah tambang emas tanpa batas jangka panjang.

“Ke depan, generasi muda pertanian bukanlah pekerja bidang pertanian, tetapi menjadi pelaku usaha pertanian. Regenerasi petani menjadi hal yang penting dan utama sekarang ini,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

Sedangkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan, dibutuhkan sekelompok anak muda yang memiliki loyalitas dan integritas untuk memajukan pertanian Indonesia.

“Sudah saatnya pertanian dikelola oleh generasi milenial yang menggunakan kreativitas dan inovasinya, sehingga pertanian ke depan menjadi pertanian modern yang tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, tetapi juga berorientasi ekspor. Saat ini kita telah memiliki banyak petani milenial sekaligus enterpreneur di bidang pertanian,” ucap Dedi.

[Mario/Har]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here