ribuan cacing tanah di pasar gede solo

Beritainternusa.com,Jateng – Fenomena keluar ribuan cacing tanah dari tanah di Solo dan Klaten, Jawa Tengah memunculkan beragam spekulasi. Bahkan, ada spekulasi yang mengaitkan fenomena munculnya ribuan cacing ini dengan gempa bumi.

Di Klaten, cacing ini keluar di perkarangan rumah warga. Jumlahnya ribuan dan tampak seperti mie.

“Persis seperti jemuran mi saking banyaknya. Jenis apa kami tidak tahu tapi badannya nggilap (mengkilap)” ungkap warga Dusun Socawetan, Desa Socakangsi, Kecamatan Jatinom, Klaten, Suranto pada wartawan di rumahnya, Minggu (19/4/2020).

Suranto mengatakan cacing itu muncul sekitar pukul 05.30-06.00 WIB. Muncul dari pekarangan, tepi jalan dan sekitar rumah dengan jumlah sekitar ribuan.

Fenomena serupa juga muncul di kawasan Pasar Gede Solo. Jumlah cacingnya sangat banyak dan menyebar hingga jalur ejalan kaki di Jalan Urip Sumoharjo.

Petugas kebersihan kemudian langsung membersihkan caing-cacing itu, kemarin. Salah seorang petugas kebersihan, Marsono mengungkap dia memungut cacing hingga satu ember.

“Itu ada ratusan mungkin. Kalau dijadikan satu bisa satu ember. Langsung saya sapu sampai bersih, soalnya kan sini buat jualan,” kata pedagang bakso di sekitar lokasi, Marsono kepada wartawan, Sabtu (18/4).

Sementara itu, pakar Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prabang Setyono, menegaskan kemunculan cacing-cacing itu bukan dari disinfektan yang belakangan disemprot di berbagai sudut wilayah gegara pandemi virus Corona atau COVID-19.

“Kecuali kalau disinfektan disemprot di satu titik dengan jumlah besar mungkin langsung keluar. Tapi ini kejadiannya di berbagai tempat, jadi saya kira bukan,” kata Prabang kepada wartawan.

Menurutnya, cacing akan keluar dari tanah secara alami jika ada perubahan kondisi tanah secara drastis. Dia menyebut peristiwa kali ini berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Lalu apakah ini terkait dengan perubahan lingkungan? Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Nugroho menyebut fenomena ini bisa saja faktor perubahan iklim.

“Kalau dari sudut pandang saya, pasti ada perubahan lingkungan sehingga terjadi migrasi besar cacing tanah tersebut. Pancaroba atau perubahan musim mungkin berpengaruh,” ungkap peneliti LIPI, Hari Nugroho saat dihubungi wartawan, Minggu (19/4/2020).

Hari yang pernah fokus meneliti cacing dan tawon mengatakan binatang memang memiliki kepekaan yang lebih tentang sesuatu yang terjadi. Namun dia berharap kemunculan cacing itu tidak berkaitan dengan gempa.

Perubahan lingkungan yang bisa jadi penyebabnya, sambung Hari, termasuk iklim sangat berpengaruh. Namun soal perubahan apa lebih detailnya harus diteliti lebih jauh.

“Secara umum menurut saya itu (cacing muncul) merupakan respons terhadap perubahan lingkungan,” kata Hari.

Untuk mengetahui penyebab fenomena kemunculan cacing tanah itu, menurutnya perlu dicari tahu perubahan apa yang terjadi di lokasi munculnya cacing. Bisa jadi perubahan musim pancaroba atau ada kegiatan alam lainnya. Untuk mengidentifikasi fenomena ini perlu ada spesimen. Sebab banyak cacing memiliki kemiripan.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyodorkan kemungkinan soal kaitan fenomena ini dengan gempa bumi. Ada sejumlah catatan sejarah gempa bumi yang bisa dipakai dasar.

“Isu kemunculan cacing yang dikaitkan dengan akan terjadinya gempa bukan tak berdasar. Beberapa peristiwa gempa merusak di dunia di antaranya memang diawali adanya gejala alamiah berupa kemunculan cacing tanah secara massal,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya, Minggu (19/4/2020).

Daryono memerinci catatan-catatan kemunculan cacing dengan peristiwa gempa bumi. Di Taiwan, kata Daryono, kemunculan cacing tanah dilaporkan pada 10 hari menjelang terjadinya gempa Chi Chi 1999 (Allen dkk., 2000).

“Pada peristiwa gempa Haicheng, China 1975, beberapa hari sebelumnya juga dilaporkan adanya kemunculan cacing tanah yang sangat banyak ke permukaan tanah,” sebut Daryono.

“Beberapa sumber pustaka lain juga mengungkap fenomena kemunculan cacing tanah menjelang gempa seperti kajian Chen dkk. (2000), Rikitake (1979), Whitehead dan Ulusoy (2013), dan Liso dan Fidani (2014),” imbuh dia.

Mengutip Grant dan Conlan (2015), Daryono mengatakan kemunculan cacing tanah di permukaan menjelang gempa terkait anomali gelombang elektromagnetik frekuensi rendah. Munculnya anomali ini dilaporkan terjadi beberapa hari sebelum gempa bumi.

“Dalam sebuah penelitian yang mengkaji hubungan antara aktivitas cacing tanah dan kelistrikan, Ikeya dkk. (1996) menempatkan beberapa elektroda yang dialiri arus listrik pada permukaan tanah yang banyak terdapat cacing tanah. Sejumlah cacing ternyata merespon anomali kelistrikan ini dengan keluar dari dalam tanah secara hampir bersamaan,” sebut Daryono.

Meski demikian, Daryono menyebut, laporan kemunculan cacing yang terjadi di berbagai tempat di dunia menjelang gempa besar ternyata selalu didukung data perilaku gejala alamiah tak lazim lainnya. Gejala tak lazim itu seperti kemunculan ular di beberapa tempat, anjing yang terus menggonggong bersahutan dan ikan yang melompat-lompat di kolam.

“Selain perilaku aneh binatang menjelang gempa, para ilmuwan juga menandai adanya anomali prekursor gempa. Prekursor gempa adalah sebuah anomali kondisi lingkungan fisik yang menjadi petunjuk akan terjadinya gempa,” jelas Daryono.

“Prekursor dapat berupa anomali permukaan tanah, elevasi muka air tanah dan emisi radon yang terjadi berbarengan. Radon merupakan unsur radioaktif, gas radon dipercaya akan keluar ketika batuan akan melepaskan stresnya, sehingga radon menjadi parameter penting dalam prekursor gempa bumi,” imbuhnya.

Dengan sejumlah catatan tersebut, Daryono mengatakan munculnya cacing di beberapa tempat di Solo, Jawa Tengah, akhir-akhir ini belum dapat dikatakan sebagai petunjuk akan terjadi gempa. Ini karena tak ada data dukungan gejala alamiah tak lazim lainnya seperti yang dia sebutkan tadi.

“Fenomena cacing di daerah tersebut berdiri sendiri, tidak didukung bukti-bukti alamiah lain beserta data anomali prekursornya,” kata Daryono.

“Jika tidak ada data dukung penguat lainnya maka munculnya cacing secara masal ke permukaan diduga diakibatkan perubahan kondisi cuaca, iklim, dan lingkungan yang mendadak, termasuk kemungkinan terpapar bahan kimia seperti desinfektan dll,” tegas dia.

Daryono meminta semua tetap waspada karena wilayah Indonesia rawan gempa. Daryono menyebut gempa kuat dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan belum dapat diprediksi,” tutur dia.

[Dwi/Har]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here