Beritainternusa.com,Jakarta – Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Yoga Adiwinarto mengatakan, tiket bus mereka tidak pernah naik sejak 2006. Bajet operasional bus tersebut disokong dengan subsidi kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

Yoga menyatakan hal tersebut setelah satu anggota Komisi B DPRD mempertanyakan penggunaan PSO oleh Transjakarta yang dirasa belum maksimal. Sementara PSO dihasilkan dari pajak.

Menurut Yoga, pengelolaan PSO oleh Transjakarta stabil dengan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan penambahan armada bus, tanpa membebani penumpang dengan kenaikan harga tiket.

“Fakta saja tarif Transjakarta belum pernah naik sejak 2006. UMP sejak 2006 naik 5 kali lipat, sedangkan ini flat. Ketika 2020 UMP naik itu langsung ada penyesuaian, biaya produksi naik, nah pendapatan kami jaga. Selisihnya dibayarkan lewat PSO,” jelas Yoga, Senin (3/2).

Dia menyebutkan peningkatan signifikan lainnya selain bus Transjakarta adalah Jak Lingko. Moda transportasi umum berupa angkutan kota (angkot) ini turut mendapat subsidi PSO. Dengan jargon Rp0, menurut Yoga, pihaknya telah sangat baik melakukan terobosan terhadap transportasi umum.

Hanya saja, ia mengakui program seperti Jak Lingko masih belum optimal karena penggunaan e-money Jakcard untuk melakukan transaksi.

“Pengguna micro trans bayar Rp0 sebenarnya ini memang dibiayai pemerintah, itu bentuk pengembalian (hasil pajak) ke warga. Barriernya memang mereka harus beli kartu ini,” ujarnya.

“Intinya ini program manfaatnya banyak tapi kurang published,” tutup Yanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here