Kondisi tanah yang merekah dan sebagian longsor di Dusun Brongkol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Rabu (8/1/2020).

Beritainternusa.com,Gunungkidul – Tanah yang merekah sepanjang 16 meter di dusun brongkol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus mengancam sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) atau berkisar 80 jiwa.

Hal tersebut diutarakan oleh Camat Tepus, Alsito saat ditemui di lokasi tanah terbelah, Rabu (8/1/2020).

“Kejadian pada hari senin lalu, Kejadian di dusun brongkol dan berdampak di dusun Kenis. Sekitar 20 KK yang berdampak longsoran,” katanya.

Alsito mengatakan, saat ini untuk sementara warga melakukan kerja bakti selama dua hari dan membuat tanggul agar jika terjadi longsoran lagi tidak berdampak kepada masyarakat sekitarnya.

“Tetapi langkah membuat tanggul ini hanya bersifat sementara, kami berharap dari pemerintah kabupaten Gunungkidul melalui BPBD dapat menanggulangi kedepannya yaitu dengan cara membuat saluran air,” katanya.

Ia menjelaskan titik tanah terbelah ada tiga dan kemungkinan akan bertambah jika terjadi hujan lebat dengan panjang rekahan ada yang mencapai 16 meter.

Menurutnya rekahan tersebut dikarenakan tanah yang saat musim kemarau mengalami rekahan dan saat musim hujan air masuk melalui rekahan-rekahan tersebut.

“Longsoran ada yang menutupi jalan tetapi kami lebih khawatir kalau tanah masuk ke rumah, kurang lebih ada 10 KK yang berdekatan dengan lokasi longsornya tanah,” ujar Alsito.

Lanjutnya jika curah hujan semakin tinggi pihaknya khawatir tanah longsor akan kembali terjadi lagi dan masih mengancam keselamatan warga sekitar lokasi tanah longsor.

“Kami menghimbau agar masyarakat waspada jika hujan deras agar bisa berpindah ke titik aman, saat ini masih aman tetapi jika nanti kondisi semakin mengancam kami akan melakukan evakuasi dengan BPBD,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelaskan fenomena yang terjadi di Dusun Brongkol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus bukanlah tanah yang merekah namun fenomena tersebut adalah merupakan tanah ambles disertai tanah longsor.

“Itu bukan tanah yang merekah tetapi tanah ambles dan memicu longsor, jadi ketika hujan air menggenang lalu meresap ke tanah dengan menggerus tanah, lalu ketika di dalam tanah terdapat lubang-lubang kecil atau ponor air tadi yang membawa tanah masuk ke ponor-ponor tadi,” ucapnya.

Ia menambahkan memang amblesnya tanah berbeda jika dibandingkan dengan yang berlokasi di Girisubo, tanah ambles yang terjadi di Dusun Brongkol berbentuk memanjang bukan berbentuk bulat.

“Melihat dari assement teman-teman di atas ada longsor dan di bawah memang ketika terjadi amblesan memanjang tidak sinkhole melingkar tapi memanjang,” ucapnya.

Ia menambahkan fenomena tersebut sering ditemui di kawasan batuan karst yang didalam tanah terdapat lubang-lubang atau ponor.

“Di dalam ada lubang-lubang kemungkinan lebih dalam lagi ada sungai bawah tanah, ada juga tanah ambles yang mengalir ke luweng atau goa kecil,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here