Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul Helmi Jamharis

Beritainternusa.com,Bantul – Pemerintah Kabupaten Bantul menyiagakan anggaran dana tak terduga (DTT) sebesar Rp 15 miliar dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) tahun 2020.

Dana tak terduga tersebut sengaja disiapkan oleh pemerintah Bantul untuk bantuan bencana alam yang terjadi di Bumi Projotamansari.

“Dana tak terduga tahun 2020, belum dipakai, ada sekitar 15-an miliar sekian,” kata Sekretaris Daerah Bantul, Helmi Jamharis, ditemui di kantornya, kemarin.

Helmi mengatakan, dana tak terduga itu dapat digunakan ketika terjadi musibah bencana alam.

Kemudian Bupati Bantul sudah menetapkan status darurat bencana.

Hingga awal tahun 2020 ini, menurutnya dana tersebut masih tersimpan.

“Di awal tahun ini, belum digunakan,” terangnya.

“Yang jelas, sifatnya darurat dan kerusakan, tentu saja kami akan menggunakan dana tak terduga itu untuk menindaklanjuti. Misalnya, jembatan rusak. Padahal jembatan tersebut merupakan vital penghubung bagi warga masyarakat. Tentu kami berupaya bagaimana caranya agar mobilitas warga tidak terganggu,” lanjut Helmi.

Selama musim penghujan, Pemerintah Kabupaten Bantul, dikatakan dia, sudah memerintahkan kepada aparat di setiap wilayah, khususnya Pak Camat untuk selalu memantau kondisi wilayahnya masing-masing.

Kemudian melaporkan kepada Bupati Bantul dan ditembuskan ke BPBD dan DPUPKP manakala terjadi kerusakan yang memang harus segera dilakukan rehabilitasi secepatnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto menyampaikan, ada empat bencana di Kabupaten Bantul yang perlu diwaspadai oleh masyarakat selama musim penghujan, antara lain, longsor, Banjir, petir dan angin kencang.

Berdasarkan pendataan yang sedang dilakukan, sampai saat ini, menurutnya sudah ada 119 titik bencana, baik longsor maupun pohon tumbang.

“Paling banyak kejadian adalah pohon tumbang yang membuat 48 rumah rusak,” kata dia.

Dwi mengimbau kepada masyarakat, agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, menyusul masih berlangsungnya cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan terjadinya bencana.

Pihaknya berharap warga bisa melakukan evakuasi mandiri manakala melihat situasi dan kondisi yang membahayakan.

“Jadi tanpa harus dipaksa oleh pemerintah, warga bisa evakuasi mandiri ketika melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Sehingga tidak ada korban jiwa, maupun harta benda,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here