Foto: Rahajeng Kusumo Hastuti

Beritainternusa.com, JAKARTA – Seperti yang dikutip dari laman CNBC Indonesia News (18/10). Sudah sebanyak 233 ekonom merekomendasikan pemerintah mengeluarkan Perppu untuk membatalkan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versi revisi. Para ekonom menilai ekonomi Indonesia dan dunia sedang dalam kondisi sulit, dan akan semakin merana dengan pelemahan penindakan korupsi.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Rimawan Pradityo mengatakan korupsi berbanding terbalik dengan investasi, dan korupsi justru melemahkan kapasitas pemerintah. Dengan penindakan korupsi berkurang, maka kredibilitas KPK berkurang, nanti efisiensi ekonomi berkurang.

“Kami mendukung Pak Presiden meneruskan pembangunan, dengan menerbitkan Perppu untuk membatalkan revisi UU KPK. Memperkuat KPK mudaratnya lebih kecil dibanding Pak Jokowi meneruskan UU Itu,” kata Rimawan kepada wartawan, Jumat (18/10/2019).

Dia menambahkan dalam kurun 2001-2015 kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp 203,9 triliun, sementara yang dikembalikan kepada negara hanya sekitar Rp 21 triliun.

Dalam kesempatan yang sama Ekonom CORE Indonesia, Piter Abdullah mengatakan jika UU KPK tetap dilanjutkan maka akan timbul kegaduhan yang menyebabkan pemerintah tidak fokus dalam membangun ekonomi. Padahal Indonesia menghadapi PR besar dalam menghadapi perlambatan ekonomi global, bahkan sudah ada beberapa negara yang resesi.

“Revisi harus dibatalkan, keluarkan Perppu. Biarkan KPK berjalan seperti biasa. KPK sudah berjalan sangat baik. Logikanya jangan diputarbalikan, kalau korupsi sebagai pelancar investasi, itu logika ngawur dan sesat,” tegas Pieter.

Selan itu ekonom Indef Enny Sri Hartati mengatakan kalaupun harus ada revisi dalam UU KPK hanya pada poin-poin yang multi tafsir. Dengan begitu perbaikan tidak akan berpengaruh pada profesionalisme KPK.

“Misalnya penyadapan, kalau tidak ada penyadapan, tidak mungkin bisa terungkap. Kalau keampuhan KPK disana, dan instrumen itu diutak atik, apa dong namanya kalau tidak melemahkan?” kata Enny.

Sumber : CNBC Indonesia News (dru)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here