Coretan Jurnalis MI, Abunawar Bima

Beritainternusa.com, JAKARTA — Ketika aku kembali dan menelusuri dusunku, disana kutemui rumah-rumah tua tak berpenghuni, tidak terawat, hanya tinggal hitung hari akan segera roboh, rumah-rumah itu berdiri kesepian karena telah lama ditinggalkan pergi oleh para pemiliknya, memilih merantau untuk mencari penghidupan yang lebih layak, atau menuntut ilmu dinegeri seberang.

Tidak ada yang salah, jika ada yang menganjurkan atau mungkin suatu fakta dari sebuah keadaan yang mengharuskan untuk pergi merantau ke metro politan atau daerah lain karena ketiadaan sumber penghasilkan yang mumpuni dikampung sendiri, maka berhondong-hondonglah orang keluar kampung untuk satu tujuan yang sama yaitu merubah nasib, Berhasilkah?

Ya…! Latar belakang kehidupan yang amat pelik adalah modal dasar yang amat kuat hingga seseorang mampu bertahan dengan kerasnya penghidupan di Ibu Kota, Kejamnya ibu tiri lebih kejam dari ibu kota, gak kuat mental siap-siap terpental, hanya ada dua pilihan : Bertahan atau pulang kembali kekampung?

Kata bertahan inilah yang menjadi kunci sukses dari beberapa nara sumber yang saya temui, terlihat dari kehidupannya yang sudah amat mapan, rezeki mengalir tiada hentinya bahkan menjadi Raja diatas Raja, karena begitu hebatnya dengan jabatan yang dia sandang, namun indahnya menikmati buah kesuksesan itu, mereka lupa akan kampung halaman.

Disana masih ada rumah titian warisan yang dibiarkan sepi seakan tak bertuan, tak ada nilainya memang kalau dirupiahkan tetapi sesungguhnya rumah itu teramat banyak catatan yang telah tergoreskan, sadarlah…. disanalah sumber insipirasi hingga berkobarnya api semangat untuk berjuang, hingga ahirnya mampu dan menjadi sukses seperti saat ini.

Ada desir kesedihan tiap kali memandangi rumah-rumah yang ditinggalkan itu, terdengar suara cekikikan dari dalam rumah dan aku sangat mengenal suara itu, yah suara teman-teman masa kecilku.

Dirumah inilah kami tumbuh, menghabiskan hari-hari mengisi waktu, bermain, berlari, tertawa, bertengkar, saling mengolok dan lucunya kalau sudah ada yang meraung-meraung menangis barulah berhenti dan pulang kerumah masing-masing mengadu sama Ibu.

Aku jadi tersenyum sendiri, kejadian itu bagai diputar kembali, membuatku terpaku dan terasa berat ingin beranjak dari tempat itu, namun perihnya sengatan mentari menyadarkan aku dari segala lamunanku.

Saya menyadari, banyak saudara-saudara kita Dou Mbojo yang tinggal diberbagai tempat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Saudara-saudara kita ini berkerja diberbagai profesi dan rata-rata hidupnya sudah mapan tapi jarang sekali mau menengok kampung halaman.

Tidak pernah muncul dikampung inilah direspon negatif oleh saudara-saudara kita yang lain sehingga muncul beberapa komentar misalnya; ratabe mai kai na, ana cou si sia aka, ka anca nara, kana’e tuta di rasa dou, kaco’i ja pu dana ra rasa (Dari mana, Anak siapa, Sok dan Sombong, Hargailah Tanah kelahiran) dan sebagainya.

Dimanapun tempat tinggal saat ini bukanlah masalah, akan tetapi lakukanlah sesuatu agar orang-orang dikampung ikut terangkat derajad kehidupannya atau Anda sudah menikmati hidup mapan dengan berbagai fasilitas mewah direrantauan, lalu bilang, saya bangga menjadi orang Bima! saya rasa itu lebih baik dari pada pulang tanpa bisa melakukan apa-apa disana.

Saya juga teringat dalam suatu rapat akbar di Jakarta, seorang Purnawirawan dengan lantang mengatakan : Sudah sekian lama mengenyam pendidikan dan berhasil menyandang berbagai jabatan strategis, kini saatnya pulang untuk membangun kampung halaman?

Lah, kenapa harus nunggu pensiun dulu boz baru memikirkan kampung halaman? Kalau sudah pensiun….artinya sudah berumur dan sudah tidak selincah, gesit dan gagah seperti sebelumnya.

Seharusnya pada saat memangku jabatan, pada saat itulah anda bisa memanfaatkan pengaruh besar anda untuk kemajuan kampung halaman, lantas sekarang akan memberikan sumbangsih apa dengan sisa-sisa umur yang sudah uzur?

Wajar saja ada satu peserta yang dengan lantang bertanya kepada Sang Purnawirawan, pertanyaanya seperti ini : Saya kagum dengan biografi dengan segala macam prestasi maupun jabatan yang Bapak capai selama ini, tetapi yang sangat mengherankan kenapa nama Bapak tidak begitu dikenal Di Daerah Bima dan sayapun baru mengenal Bapak pada saat rapat ini, itu berarti selama ini Bapak sama sekali tidak memberikan kontrubusi apapun untuk kemajuan Daerah bima, kenapa setelah mau pensiun tiba-tiba menjadi bersemangat ingin membangun Daerah Bima, ini pasti ada tujuan lain dibalik semangat Bapak yang begitu menggelora.

Jawaban Sang Punawirawan : “Saya tidak mengerti maksud pertanyaan Anda, akan tetapi saya bersedia kapan saja untuk menemui saya langsung untuk membahas pertanyaan Anda tadi,” jawab Purnawirawan.

Saya yakin sang Purnawirawan sudah faham menghadapi situasi seperti itu, makanya beliau memberi opsi untuk menemuinya langsung, kenapa? Sipenanya timbulnya keberaniannya bertanya, karena peserta rapat cukup banyak, lain halnya kalau berhadapan langsung, tentu saja nyali sipenanya bakal ciut, iya gak, atau Sang Purnawirawan punya jurus tertentu untuk menyumpal mulutnya agar enggan berbicara, bukan begitu Pak Purnawirawan?.

(AB-Red/BIN)**

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here