Beritainternusa.com, JAKARTA – Seperti yang dikutip dari laman Jatim Times.Com  Senin, 14 Oktober 2019. Bahwa sebagai bagian daerah pemilihan 6 Jatim (Blitar, Tulungagung dan Kediri) dalam Pileg 2019, masyarakat Blitar mendorong PDIP mencopot anggota DPR RI Arteria Dahlan.

Desakan untuk mencopot Arteria Dahlan tersebut di antaranya disampaikan para dosen dan tenaga pendidik Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL-UI) melalui petisi resmi. Di Blitar, dukungan pencopotan Arteria datang dari kalangan aktivis.

Sebagai warga Blitar sekaligus aktivis Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) Blitar, Mohamad Triyanto menilai Arteria memang tidak memiliki tata krama politik yang baik. Gaya komunikasi yang arogan dan kasar Arteria tidak mencerminkan kultur masyarakat Mataraman yang memilihnya. Dan itu dianggap memalukan.

“Kalau memang ada desakan publik untuk mencopotnya, ya wajarlah. Anggap saja sebagai dinamika politik,” ujar Triyanto.

Arteria Dahlan mencalonkan diri sebagai DPR RI melalui dapil 6 Jatim (Blitar, Tulungagung dan Kediri) Jatim. Untuk yang kali kedua, politisi PDIP itu lolos ke Senayan.

Menurut Triyanto, selain kasar dan arogan, cara berfikir serta sikap Arteria Dahlan ditengarai tidak mewakili suara masyarakat dapil 6. Dicontohkan polemik  UU KPK hasil revisi.

Kengototan Arteria merevisi UU KPK, kata Triyanto, tidak berbanding lurus dengan aspirasi masyarakat di dapil, khususnya Blitar. Sebagai wakil rakyat Arteria, terlihat hanya mengedepankan aspirasi partainya. “Kengototannya soal revisi UU KPK tidak berbanding lurus dengan mayoritas suara di dapilnya,” tegas Triyanto.

Bagi Triyanto, bergaya kontroversial seperti yang diperlihatkan Arteria boleh boleh saja karena bagian dari style politik. Namun, gaya apa pun  tetap harus dilandasi rasionalitas dan menjunjung tinggi etika.

Dia juga mengatakan, andai Arteria Dahlan bukan bagian partai penguasa, sikapnya yang tidak berterika itu tentu akan mudah diseret ke persoalan hukum. Arteria bisa dijerat dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. “Usul saya kepada saudara Arteria Dahlan, ingat kekuasaan politik bisa berubah setiap saat,” tegasnya.

Sebagai anggota DPR RI dari dapil 6, kontribusi apa yang selama ini sudah diberikan Arteria Dahlan kepada masyarakat dapil yang memilihnya? Triyanto menegaskan nyaris tidak ada.

Persoalan nasib tenaga honorer di Blitar Raya yang pernah dikomunikasi kepada Arteria tidak pernah tuntas. Persoalan sengketa agraria di sejumlah wilayah dapil 6 juga tidak pernah selesai.

Terkait masalah agraria, khususnya perhutanan sosial, apa yang dilakukan para petani, tidak ada campur tangan dari Arteria Dahlan. “Semuanya nol besar. Kita berjuang sendiri,” kata Triyanto.

Seperti diketahui pasca-berdebat keras dengan mantan Menteri Lingkungan Hidup era Orde Baru Emil Salim di sebuah stasiun televisi, Arteria Dahlan panen kecaman. Arteria dinilai tidak memiliki etika karena menuding-nuding Emil yang secara usia jauh lebih tua.

Yang terbaru sebuah gerakan akademisi dari kampus UI mendesak Arteria untuk meminta maaf. Selain itu, melalui sebuah petisi meminta PDIP mencopot Arteria Dahlan dari DPR RI.

(Red-BIN)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here