Kerusuhan di Wamena.

Beritainternusa.comDemonstrasi berujung kerusuhan di Wamena, Papua, pada 23 September mengakibatkan lebih dari 30 orang meninggal dunia dan banyak bangunan rumah, toko, kantor, serta fasilitas umum rusak.

Banyak warga yang terjebak dalam kerusuhan tersebut dan meninggalkan trauma. Termasuk warga perantau yang memilih pulang ke kampung halamannya.

Mereka pun bercerita bagaimana terbebas dan selamat dari kerusuhan Wamena, Papua. Berikut kisahnya:

Selamat dari Kerusuhan Setelah Sembunyi di Gereja

Sofia (30) berhasil selamat dari kerusuhan Wamena setelah bersembunyi di dalam sebuah gereja. Ketika kerusuhan terjadi, bersama keluarganya berusaha menyelamatkan diri dari massa yang anarkis.

Perempuan asal Sampang, Madura itu pun melihat sebuah gereja di hadapannya dan secara spontan berlari masuk guna mencari persembunyian. Sofia dan keluarganya pun bertemu pengurus gereja yang justru mempersilakan masuk dan bersembunyi.

“Masuk gereja. Ya (disuruh masuk) sampai dijemput polisi,” kata Sofia yang baru turun dari Hercules di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh malang, Kamis (3/10).

Pihak gereja yang melihat kedatangannya mengatakan kepadanya tidak masalah bersembunyi di tempat tersebut. Sofia dan keluarganya akhirnya selamat, setelah kemudian dievakuasi oleh pihak keamanan.

Sofia mengaku sudah 8 tahun tinggal di Wamena bersama suaminya yang bekerja sebagai sopir. Ia bersama anak dan 10 orang saudara berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa. “Beberapa jam kemudian dijemput polisi,” kata Sofia.

Rumah Dibakar

Abdullah asal Sampang, Madura menceritakan, usahanya untuk lolos dari massa yang anarkis dan menghanguskan rumah yang ditinggalinya. Ia sebenarnya sudah mendapat informasi kalau ada demontrasi, tetapi saat itu mengira hanya demo biasa, ternyata begitu melihat keluar rumah, massa membakar mobil, dump truck sampai rumah-rumah semuanya dibakar. Saat rumah yang ditinggali terbakar, Abdullah dan adiknya pun masih sempat mengambil air untuk memadamkan api.

“Bahkan aku di dalam kios itu, di luar dibakar aku masih di dalam. Itu aku menyiram air untuk memadamkan api,” katanya.

Namun sesaat kemudian dia segera sadar dan berlari meninggalkan rumah untuk bersembunyi di rumah sebelahnya. Rumah itu belum terbakar sehingga bisa sesaat bersembunyi dari massa bersama adik dan dua teman.

Namun keberadaannya kemungkinan diketahui, sehingga rumah itupun dibakar. Massa berteriak-teriak dan menduga kalau masih ada orang di dalamnya sehingga langsung diberi bensin dan dibakar.

“Lari bersembunyi ke rumah yang belum terbakar itu, tetapi massa melihat kalau masih ada dua orang, diteriaki kalau ada orang suruh bunuh, aku masuk ke dalam situ. Aku langsung naik ke platform sama adik, di luar banyak massa. Aku keluar tidak bisa karena banyak massa. Aku masih ngumpet, terus semprot bensin sama disulut api, langsung dibakar,” kisah Abdullah.

Abdullah dan adiknya hanya mengenakan baju yang menempel di badan. Sementara semua hartanya hangus berikut rumah dan barang-barangnya.

“Aku kabur menjebol pagar, karena di sana pagarnya pakai drum. Lari ke rumput-rumput. Baru sekitar jam 4 sore dibawa ke Polsek,” kata Abdullah yang mengaku diselamatkan bareng 20 orang.

Bertahan di Dalam Kelas

Seorang siswa asal Sumatera Barat menceritakan kembali suasana mencekam saat kerusuhan di Wamena, Papua, pecah 23 September 2019 lalu. Ia bercerita, saat itu perusuh yang kocar kacir sempat masuk ke halaman sekolah dan melempari kaca-kaca ruang kelas saat kerusuhan terjadi. Parahnya, para perusuh berusaha merangsek masuk ke kelas, padahal saat itu kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

“Saat itu, hari Senin sekitar pukul 08.00 Wit, setelah upacara saya mau ujian agama, tiba-tiba kerusuhan itu terjadi. Untuk mengamankan diri, saya bersama teman-teman lain bertahan dalam kelas, kemudian menyusun meja serta bangku-bangku untuk menghalang pintu,” kata anak perantau itu, yang pada Jumat sudah kembali ke Padang. Diberitakan Antara.

Dia bersama dengan 40 teman sekelasnya berusaha menahan pintu supaya perusuh tidak masuk ke ruang kelas. Untungnya, perusuh kemudian meninggalkan sekolah.

“Kami bertahan di dalam kelas sekitar setengah jam, hingga kemudian ada kerabat yang datang menjemput,” katanya.

Menyelamatkan Diri ke Perumahan TNI

Nur Wahid (60) yang berasal dari Probolinggo, Jawa Timur, menceritakan, bahwa dirinya sudah 12 tahun merantau dan menjadi tukang ojek di Wamena. Ia menyampaikan, saat kerusuhan terjadi di Wamena, rumah yang ditempatinya bersama adiknya juga dibakar massa. Ia juga melihat banyak korban tewas karena massa anarkis.

“Itu rumah milik orang Makassar, saya suruh jaga rumah itu. Waktu dibakar saya lari lewat belakang. Waktu itu kejadian jam 9 pagi. Akhirnya ada anggota, saya selamat. Tapi rumah dan motor 6 habis semua,” ujarnya.

Nur Wahid juga menjelaskan, dirinya selamat bersama keluarganya karena lari ke perumahan TNI dan sempat juga terpisah dengan keluarganya. Namun keluarganya selamat semua.

“Saya 6 keluarga, selamat semua. Iya keluarga ada yang terpisah tapi selamat. Waktu itu saya lari ke Perumahan TNI, kalau tidak lari mati,” ujarnya.

Nur Wahid juga menceritakan, massa selain membawa senjata tajam juga membawa bensin. Massa campuran dari anak muda hingga orang tua dan ada juga yang pakai seragam sekolah tapi dilihat dari wajahnya bukan seorang pelajar.

“Iya ada yang pakai seragam sekolah, tapi orangnya tua-tua dan campuran (ada tua dan muda). Saya cuma dapat bantuan makan saja, saya sempat mengungsi lama juga,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here