Beritainternusa.com, Lores (NTT) — Puluhan pelajar dan guru-guru dari SMPN 1 Bajawa, Ngada, Flores NTT mengadakan wisata literasi untuk menyerukan  pentingnya menjaga lingkungan hidup dengan tidak membakar hutan. Kegiatan yang dilaksanakan selama satu hari  di Bukit Nagge Mbaa, Desa Nginamanu,  Kecamatan Wolomeze, Ngada, NTT, Kamis, 29/8/2019 itu memberikan kesan positif bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Ngada agar tidak membakar hutan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Kegiatan dalam bentuk road show ekolitarasi tersebut dilakukan atas dasar keprihatinan para siswa dan sekolah terhadap masyarakat yang selalu membakar hutan ketika musim kemarau. Kegiatan tersebut mengangkat tema   ‘Literasi Kaum Milenial Tolak Bakar Hutan.’

Sebanyak 50 siswa mewakili kaum milenial ini mengecam keras aksi pembakaran dan pengrusakan hutan. Salah satu anggota tim Jupel Spensa Bajawa, Sandra Sugi mengatakan, “membakar hutan berarti membakar masa depan. Jika hutan sudah rusak, kemana masa depan generasi kami?” tandasnya.

Kegiatan ini berkat kerjasama antara SMPN 1 Bajawa dengan Yayasan Puge Figo, yang bertempat di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada_NTT. Dalam kegiatan ekoliterasi ini, siswa Jupel Spensa melakukan aksi: tabur benih, seruan milenial Tolak Bakar Hutan, dan observasi serta peliputan yang kemudian dibuat dalam tulisan bertema “Stop Bakar Hutan”.

Ketua Yayasan Puge Figo, Emanuel Djomba mengatakan bahwa, Bukit Nangge Mba’a seluas kurang lebih 100 hektar merupakan daerah konservasi dan reboisasi dari Yayasan Puge Figo. Kegiatan reboisasi dan konservasi yang dilakukan Yayasan selama 5 tahun tidak berjalan mulus dan penuh tantangan yakni kebiasaan warga yang sering membakar hutan, setiap waktu mereka selalu berjibaku memadamkan api. Lebih lanjut Eman menambahkan, kehadiran siswa Jupel SMPN 1 di Bukit Nagge Mba’a memberi energi baru bagi penggiat ekologi khusunya Yayasan Puge Figo untuk terus semnagat berjuang menghijaukan bukit Nagge Mba’a. Eman menyambung, road show yang dilakukan Spensa menjawab harapan Yayasan Puge Figo untuk mengampanyekan ekologi bagi semua orang, lebih-lebih bagi kaum milenial pemilik kehidupan masa datang. Spensa Bajawa selalu memberikan inspirasi , dan ini merupakan sekolah pertama di Kabupaten Ngada yang melakukan kegiatan ekoliterasi bersama Yayasan Puge Figo. ia berharap ada sekolah lain yang punya niat yang sama seperti Spensa, tandasnya.Kepala SMPN 1 Bajawa, Maria C Imelda mengatakan, kegiatan literasi di sekolah dan ekoliterasi di alam bebas untuk mengasah empat keterampilan siswa agar siap menghadapi tantangan zaman.

Empat keteampilan dimaksud antara lain: Critical Thinking (berpikir kritis) kemampuan menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah; Collaboration (kolaborasi) kemampuan bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya dan menghormati perspektif berbeda; Communication (Komunikasi) kemamapuan komunikasi adalah mengirimkan pesan melalui media yang dipilih agar dapat diterima dan dimengerti oleh penerima pesan; Creativity (Kreativitas) merupakan kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru yang berbeda.Imelda melanjutkan, bahwa di sekolah ada kegiatan intrakurikuler dan ekstra. Literasi merupakan kegiatan ekstra yang dirancang bagi siswa. “Pembelajaran selain di kelas dan di rumah mereka mengenal lingkungan dengan berbagai permasalahan dan mereka menjadi generasi yang memberikan solusi,” tutup Imelda.

Oleh Kontributor Tipikor NTT, Lusia Yasinta Meme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here