Foto: Yogi Suara (PT. Arutmin Indonesia)

Beritainternusa.com, Kotabaru (KALSEL) – Tidak ada kata terlambat walau  pribahasa nasi sudah jadi bubur. Hal  itulah yang dirasakan sejumlah warga masyarakat RT. 03 RW. 01 Gunung Ulin Desa Sang-Sang, dimana mereka sekarang tidak bisa lagi mengambil hasil mata pencarian biaya hidup keluarga sehari-hari atas tanaman milik mereka berupa kebun karet, karena diatas lahan tersebut telah dilakukan aktivitas pertambangan batubara yang dikerjakan oleh kontraktor PT. Jasa Bara Anugrah (JBA) karena mendapat Surat Perintah Kerja (SPK) resmi dari PT. Arutmin Site Senakin Kecamatan Kelumpang Tengah Kabupaten Kotabaru.

Dari penelusuran Awak Media Beritainternusa.com di lokasi pertambangan yang saat itu beraktivitas, menghimpu sejumlah  pengakuan dari  warga masyarakat, lahan itu sebenarnya belum pernah ada dilakukan pembebasan oleh PT. Arutmin. “Jikalau ada bukanlah disini letaknya,” kata salah satu warga setempat.

Lahan terdampak langsung akibat aktivitas tambang seluas kurang lebih 3 hektar serta diatas lahan sebelumnya terdapat tanaman pohon karet berjumlah sekitar kurang lebih 3 ribu batang. Kini habis didorong oleh alat berat milik PT. JBA. Sedangkan lahan kebun karet yang terdampak tidak langsung, ada terlihat puluhan pohon karet mati karena terendam air, bahkan limbah polusi udara debu, dan saluran air sungai tersumbat menjadi keruh.

Salah satu warga yang enggan mau disebutkan namanya kepada awak media mengatakan, “asal usul lahan ini adalah milik sejumlah warga Gunung Ulin Desa Sang-Sang diantaranya inisial AG, TM/AL, RD, SB, GP, dan JR. Diantara warga ada salah satu memiliki bukti Surat Keterangan Tanah (SKT).”

Ia menambahkan, sebelumnya di atas lahan warga pernah dilakukan pengeboran beberapa titik oleh pekerja (karyawan) yang diperintahkan H. M. Ilyas selaku pelaksana CV. Nabila Mandiri Sejahtera, berubah menjadi PT. Nabila Mandiri Sejahtera, dan terakhir menjadi PT. Jasa Bara Anugrah (JBA) hal tersebut terjadi sepanjang beberapa bulan sampai saat ini ditahun 2019. Kemudian sejumlah warga pemilik lahan masing-masing sudah menerima pembayaran down payment (DP) dengan jumlah yang bervariasi, oleh CV. Nabila Mandiri Sejahtera.

“Hal yang membingungkan kami selaku pemilik lahan seiring berjalannya waktu tiba-tiba pekerjaan berubah diambil alih oleh PT. JBA dengan orang-orang dilapangan sama dengan CV. Nabila Mandiri Sejahtera yang dulunya melakukan aktivitas pertambangan dengan janji membayar (fee) kepada pemilik lahan, sekarang dihentikan tidak ada lagi dilakukan pembayaran (Fee) tersebut (ingkar janji),” paparnya.

 

Kepala Desa Sang-Sang M. Kusyairi, S.Ag mengatakan bahwa pihaknya sudah membahas  permasalahan itu  dengan mengupayakan mengundang kepada para pihak, baik pimpinan pelaksana PT. JBA dan PT. Arutmin untuk mediasi di Kantor Desa guna menyelesaikan persoalan-persoalan ini, namun tidak dihadiri oleh pihak PT. Arutmin Site Senakin.

“Yang saya ketahui lahan yang ada di wilayah RT. 03 RW. 01 Gunung Ulin memang dikuasai masyarakat sejak berpuluh-puluh tahun lamanya bahkan ada yang asli orang sana, jikalau ada masalah pembebasan lahan, karena saya orang baru menjabat sebagai Kepala Desa, pihak PT. Arutmin tidak pernah sama sekali memberikan tembusan atau meninggalkan arsip di Kantor Desa tentang siapa saja orang yang telah melakukan pembebasan lahan,” kata Kades M. Kusyairi.

“Untuk itu saya atas nama pribadi selaku kepala desa bersama masyarakat sepakat akan melakukan langkah mediasi yang selanjutnya, namun apabila tidak ada jalan penyelesaian maka selaku warga yang merasa memiliki lahan dan tanam tumbuh diatasnya akan menempuh jalur hukum dengan melakukan gugatan ke Pengadilan Kotabaru,” tegasnya.

Ketika ditemui Awak Media BIN.Com pimpinan pelaksana PT. Jasa Bara Anugrah di kediamannya Sabtu malam 24 Agustus 2019 H. M. Ilyas mengatakan, terkait dengan adanya permasalahan tuntutan lahan dan tanam tumbuhnya milik masyarakat yang belum dibebaskan tentunya pihak PT. Arutmin yang menyelesaikannya. Sebab menurut keterangan itu adalah lahan milik PT. Arutmin yang sudah dibebaskan akan tetapi dikuasai dan ditanami masyarakat jenis pohon karet.

“Memang dulu saya melalui CV. Nabila Mandiri Sejahtera juga melakukan beberapa titik aktivitas pertambangan diwilayah yang sama Gunung Ulin Desa Sang-Sang, saya melakukan pembayaran DP, Fee milik lahan, dan Fee Desa, selain kami ada juga beberapa penambang lainnya yang bekerja diatas kuasa pertambangan PT. Arutmin,” kata Ilyas.

Begitu pula CDEA Superintendent PT. Arutmin Indonesia (Site Senakin) Yogi Suara secara waktu singkat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, PT. Jasa Bara Anugrah (JBA ) adalah kontraktor  resmi. “Terkait permasalahan lahan yang mana dalam areal objek tambang sudah kami lakukan pembebasan, dan jikalau masyarakat yang merasa memiliki lahan tersebut silahkan datang kekantor serta bisa menunjukkan bukti-buktinya, kalau mau data yang sudah dibebaskan bisa kami tunjukkan di Pengadilan nanti. Untuk lebih lanjut terkait persoalan tersebut masalah apapun bisa nanti kita diskusikan pada lowyer kami,” jelas Yogi.

Yogi menambahkan, bahwa di kawasan Kuasa Pertambangan (KP) PT. Arutmin Site Senakin, sejak dulu memang ada beberapa terdapat aktivitas penambang ilegal sampai sekarang, namun hal tersebut sudah  dilaporkan kepada pimpinan perusahaan.  (MUD/BIN)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here