kerusuhan di papua.

Beritainternusa.com,Jakarta  – Polisi memburu penyebar hoaks mengenai adanya mahasiswa Papua di Surabaya  yang meninggal dunia akibat dipukul aparat TNI -Polri. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya menelusuri sejumlah akun di media social facebook  , youtube dan instagram.

“Kami masih memprofiling. Satu akun yang di Youtube, kemudian di Facebook, di Facebook ternyata ada bukan satu akun ternyata ada beberapa akun, kemudian juga ada akun Instagram yang masih juga akan didalami oleh Direktorat siber,” kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (20/8).

Dedi menerangkan, akun-akun yang diselidiki tersebut menyampaikan narasi dan video bersifat provokatif. Salah satunya foto hoaks terkait seseorang mahasiswa Papua meninggal dunia.

“Foto itu jelas hoaks. Itu yang utama,” ujar dia.

Hingga saat ini, Dedi menyebut terdapat lima akun yang diduga sebagai provokator. “Kurang lebih sampai dengan hari ini ada 5 akun ya yang diprofiling,” ucap dia.

Seperti diketahui, kemarin demo berujung kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat. Massa membakar kantor DPRD Manokwari  .

Situasi panas ini ditenggarai buntut dari perlakukan diskriminatif terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Pemerintah pusat hingga daerah meminta agar semua pihak menahan diri.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui jika kerusuhan yang terjadi di Manokwari Papua, dipicu dari hoaks yang sengaja dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu. Untuk itu, pihaknya meminta pada semua pihak untuk ikut meredam kesalahpahaman ini.

Kapolri menjelaskan, aksi massa di Papua ini di ‘triger’ dari adanya kejadian di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Malang. Menurutnya, ada kesalahpahaman yang terjadi saat itu.

“Malam itu sebetulnya hanya peristiwa kecil, yang sebetulnya sudah dilokalisir, dan diselesaikan oleh muspida setempat baik ibu Gubernur, Kapolda maupun Pangdam, sudah dinetralisir tapi kemudian muncul hoaks. Kemarin memang ketriger gara-gara ada kesalapahaman dan membuat kata-kata yang kurang nyaman. Sehingga sahabat-sahabat kita yang ada di Papua merasa terusik dengan bahasa-bahasa seperti itu. Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan kejadian yang ada di Surabaya dan Malang,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here