Paskibraka 2019 latihan baris-berbaris.

Beritainternusa.com,Jakarta – Para calon Paskibraka dipilih dari siswa-siswi berprestasi di seluruh wilayah Indonesia. Mereka sebelumnya kerja keras dalam latihan sebelum upacara kemerdekaan RI diselenggarakan. Namun ada kisah miris di balik terpilihnya anggota Paskibraka.

Berikut kisah miris para Paskibraka. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari:

Calon Paskibraka Meninggal Dunia

Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), Kota Tangerang Selatan, Aurel Qurrota Ain, meninggal dunia, Kamis (1/8). Banyak dugaan penyebab meninggalnya Aurel, salah satunya dugaan dianiaya senior semasa latihan.

Ada beberapa tanda dugaan penganiayaan di tubuh Aurel, seperti bekas lebam di tangannya. Aurel pernah bercerita pada sang ibu, bahwa ia dicubit oleh seniornya. “Memang ada spot atau lebam, dia bilang Ma ini dicubit, biasa kok. Saya bilang itu tidak biasa kak, karena harusnya tidak ada body contact untuk pendidikan Paskibraka,” kata Sri Wahyuniarti, Ibunda dari Aurelia.

Kini kasus meninggalnya Aurel masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Beberapa yang terkait memberikan keterangan, termasuk memeriksa pelatih dan panitia Paskibra Tangerang Selatan.

Paskibraka Hilang

Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Audri Viranty dinyatakan hilang sejak Senin, 29 Juli 2019. Audri hilang sejak pamit kepada orangtuanya untuk belajar kelompok di rumah temannya, Wita, yang tak jauh dari rumahnya.

Namun hingga siang, Audri tak kunjung kembali ke rumah. Padahal, ia seharusnya masuk sekolah. Keluarga Audri semakin curiga ketika hingga malam hari, Audri tak juga memberi kabar, apalagi pulang.

Karena tak kunjung pulang, akhirnya orangtua dan kakak Audri berinisiatif datang ke rumah Wita. Setelah bertemu, temannya mengatakan kalau Audri tidak ikut belajar kelompok di rumahnya. Bahkan Audri juga tidak masuk sekolah.

“Kami juga sudah telusuri medsos dia, tapi ternyata dia tidak aktif menggunakan FB, Instagram dan lainnya. Nomor HP yang dia gunakan juga pakai nomor ayahnya dan sejak Senin siang sudah tidak aktif,” kata dia.

Gagal Masuk Paskibra Karena Digeser Anak Bupati

Koko Ardiansyah, siswa asal Labuhanbatu, Sumatera Utara, gagal menjadi Paskibraka karena digeser oleh orang lain. Kisah Koko bahkan viral hingga sampai ke telinga Menpora Imam Nahrawi.

Kisah Koko direkam dalam sebuah video dan sudah tersebar hingga ke seluruh masyarakat. Dalam video itu, Koko terlihat bingung karena namanya tidak ada di daftar anggota Paskibraka. Padahal ia sudah mengikuti serangkaian tes.

“(Latihan) LKBB-nya pun hari pertama, baru hari keduanya masuk ke tahap fisik, dari mulai hari pertama sampai akhir fisik terus, baru yang terakhirnya itu LKBB-nya. Terus setelah itu lah, tahap terakhir itu, abis itu pengumuman dikasih ke sekolah nama saya di nomor 29 sudah ikut pengukuran baju pengukuran sepatu, terus terakhir karantina nama saya tidak ada dikeluarkan,” kata Koko dalam video tersebut.

Selang beberapa hari, Koko membuat klarifikasi terkait video dirinya yang beredar. Dalam video itu, Koko meminta maaf pada Diaspora Labuhanbatu. “Saya ingin mengklarifikasi bahwa saya di situ hanya sebagai cadangan. Kemarin itu saya sudah tahu bahwa ada yang dikirim ke provinsi dua orang putra,” kata Koko.

“Saya itu sudah tahu kalau bahwasanya ada yang dikirim ke provinsi, dua orang putra dan yang lulus di provinsi itu cuma satu orang. Dan karena cuma satu, yang satu lagi balik lagi tugas di kabupaten, dan karena saya di posisi cadangan kedua, nama saya yang digantikan oleh putra yang dari provinsi itu yang gagal masuk,” kata Koko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here