Beritainternusa.com, KALTENG – Limbah hasil produksi Pabrik Crumb Rubber PT Karya Sejati perusahaan pabrik pengolahan karet yang terletak di wilayah kelurahan Murung Keramat Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah mencemari lingkungan sekitarnya.

Menurut Arsani warga sekitar pabrik crumb rubber mengatakan” selama dua tahun terakhir ini limbah pabrik pengolahan karet PT Karya Sejati tersebut mencemari lingkungan sekitarnya.

“Limbah berupa limbah kimia cair, polusi udara dan debu hasil pengasapan karet, polusi debu terjadi pada saat karet yang selesai di asap di turunkan dari tempat pengasapan dengan cara di jatuhkan ke lantai gudang dan mengakibatkan adanya gumpalan debu yang keluar dari pabrik melalui ruang bagian atas pabrik yang menyebar ke lingkungan pemukiman warga yang ada di wilayah sekitar pabrik,” akunya Arsani mengatakan kepada wartawan, Kamis (15/8/2019).

Arsani pun mengatakan, limbah kimia cair yang mencemari lingkungan itu dikarenakan tidak maksimalnya pengelolaan limbah dan instalasi penyaluran limbahnya tidak diproses dengan benar melalui filterisasi pengolahan limbah kimia, sehingga pembuangan limbah kimia di duga langsung di buang kesungai, paparnya.

Akibat dari itulah, kata Arsani, semua itu berdampak langsung kemasyarakat pada pencemaran lingkungan sehingga membuat warga yang tinggal bermukim di sekitar wilayah pabrik karet mengalami gangguan kesehatan, yakni air sungai yang warga gunakan dapat menimbulkan gatal-gatal pada kulit tubuh, polusi debu yang mengganggu pernapasan dan mengotori lingkungan serta limbah berbau busuk yang  menggangu penciuman masyarakat sekitar.

Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat Kalimantan, Aspihani Ideris mengatakan tidak bisanya dalam mengelola limbah hasil produksi Pabrik Crumb Rubber PT Karya Sejati perusahaan pabrik pengolahan karet yang terletak di wilayah kelurahan Murung Keramat Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah merupakan sebuah bentuk pelanggaran hukum lingkungan.

Aspihani menjelaskan, pencemaran lingkungan hidup berdasarkan Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (“UU PPLH”) adalah masuk atau digabungkannya peran hidup, zat, energi, dan / atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup yang dihidupi oleh manusia dengan melebihi baku mutu lingkungan hidup yang sudah ditentukan. (Kontributor Kalteng BIN)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here