Ketua KSM Kenanga Merdiko Hariyati Sumiardi yang mengelola TPS3R di Dukuh Sokomartani, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Kamis (28/3/2019).

Beritainternusa.com,Sleman – Ditutupnya tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan juga berimbas pada penumpukan sampah di wilayah Sleman.

Masyarakat pun diimbau untuk mengurangi sampah rumah tangga, atau mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Salah satu alternatif untuk pengolahan sampah adalah dengan adanya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Reduce Reuse Recycle (3R).

Di TPS3R, sampah dipilah dari yang organik dan anorganik.

Untuk sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai kompos.

Dan sampah anorganik bisa diolah lagi menjadi kerajinan.

Selain bantuan pemerintah melalui pelatihan, masyarakat juga masih memerlukan bantuan di bidang lainya, yakni pemasaran.

Ketua TPS 3R KSM Kenanga Merdiko  Tempel Haryati Sumiardi saat ditemui pada Kamis (28/3) mengatakan kelompoknya selama ini dapat mengolah sampah botol dan plastik kemasan menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual.

Beberapa olahan sampah tersebut seperti tas, bunga plastik, piring dan tirai.

Namun demikian, ia juga mengakui untuk produksi pihaknya masih menunggu datangnya pesanan dari konsumen.

Selain itu pemasaran produk recycle sampah anorganik di kelompoknya masih melalui online dan pemasaran ddari mulut ke mulut.

“Pesenan tidak tentu, kalau ada pesanan baru bikin kalau tidak ya sesempatnya saja. Tapi kadang juga ada yang mengundang untuk pameran,” ujarnya.

Memang kendala utama, kata dia, ada di pemasaran.

Minimnya jaringan menjadi penyebab. Ia pun berharap pemerintah dapat memberikan mereka link untuk memasarkan produk ataupun bertukar ilmu pengolahan sampah.

Dari pantauannya, perbandingan antara sampah organik dan anorganik yang mereka terima bisa sebesar 20:80.

Maka kegiatan daur ulang ini selain mengurangi jumlah sampah plastik, juga akan menambah perekonomian masyarakat.

Taruhlah sebuah tas seharga Rp 150 ribu, jika terjual maka si pembuat dapat menyimpan Rp 140 ribu dan Rp 10 ribunya disisikan untuk uang kas.

Sementara itu, Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Dwi Wulandari menjelaskan selama ini pihaknya telah turut membantu mempromosikan produk olahan sampah.

Namun demikian, bahwa pihaknya memang menentukan kriteria agar produk itu dapat dipasarkan.

Produk tersebut harus lolos kurasi terlebih dahulu, dan syarat-syaratnya seperti produk itu dibuat di Sleman, lolos kurasi dari segi desain dan kualitas, serta diproduksi secara berkelanjutan.

“Intinya apabila layak dan berpotensi pasti kita bantu pemasarannya,” tuturnya.

“Di galeri upakarti, kami juga memajang produk hasil recycle namun tentu saja setelah lolos kurasi. Bahkan limbah dari bonggol jagung pernah kita fasilitasi untuk pameran inacraft di jakarta,” tambahnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here