Besi berukuran 8 mili lagi di persiapkan

Jogja.beritainternusa.com,Gunungkidul-Rumah Tidak Layak Huni ( RTLH)  bantuan dari pemerintah untuk rakyat miskin banyak di rasakan warga membantu dari rumah yang tidak layak menjadi rumah yang di idamkan dari kucuran dana di harapkan transparan kepada warga penerima bantuan baik berupa uang ataupun langsung berupa material.tapi terkadang dalam praktik di lapangan menyimpang jauh dan hanya di jadikan bisnis belaka untuk memperkaya diri sendiri

Rumah Tidak Layak Huni di Padukuhan Putat Desa Bleberan menuai protes yang sangat keras terutama pada besi yang mesti ukuranya 10 mili tapi dalam praktiknya cuma 8 mili itu di ungkapkan warga Putat As Sabtu ( 20/10/2018 )  yang mengatakan, “Bedah rumah tidak sesuai RAB nya dan setahu saya tidak ada TPK ( Tim Pengelola Kegiatan)  semua di kelola oleh Sekdes bahkan Dana Stimpulan Dusunpun juga samar-samar tidak ada rembuk dari warga material langsung di kirim ke lokasi dan hasilnya pun banyak matetial yang menumpuk”.Jelasnya.

Warga juga menyampaikan bahwa dana MCK yang sudah cair sampai saat ini belum juga ada realisasinya dan TPK  nya pun gak jelas.Sekdes Bleberan saat di hubungi terkait dirinya yang merangkap jabatan Ketua TPK. Saat di hubungi melalui telfon Minggu siang  ( 21/10/2018 ) Pukul 11 :10 Pukul 11:11 kemudian Pukul 11:12 WIB tidak mau angkat seolah terkesan menyepelekan.pernah di datangi media namun dirinya malah pergi dengan alasan anaknya minta jajan tapi setelah lama di tunggu -tunggu Indardi Sekdes Bleberan tak pulang.

Pewarta          : Supriyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here