AHY dalam pertemuan SBY dan Prabowo. ©2018

 

Beritainternusa.com,Jakarta  – Sejak mundur dari TNI dan maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kerap menjadi pembicaraan publik. Dengan keluarnya AHY dari militer, banyak pihak kemudian menuding keputusan itu merupakan permintaan dari ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY dinilai ambisius membangun karier politik putra pertamanya itu. Apalagi belakangan SBY disebut menyiapkan AHY menjadi cawapres dari Partai Demokrat.

Ketua DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menjawab tudingan tersebut. Ia membantah SBY ambisius menjadikan AHY sebagai cawapres.

“Saya salah satu orang yang sering berdiskusi dengan Pak SBY terkait arah politik dan kebijakan politik Demokrat. Tidak pernah satu kalipun SBY menyatakan atau berkata agar AHY menjadi cawapres dan bahkan disodorkan ke capres-capres yang ada sebagaimana info-info yang beredar yang masuk kategori hoaks,” jelasnya, Selasa (31/7).

Bahkan, lanjutnya, SBY kerap mengatakan kepada pengurus DPP agar para kader Demokrat tidak memaksa AHY menduduki jabatan tertentu atau berpasangan dengan capres tertentu tanpa persetujuan dari yang bersangkutan.

“Saya justru berkali-kali mendengar SBY berkata kepada kami, ‘Kita jangan memaksa AHY menjadi ini itu, atau memaksa berpasangan dengan si A atau si B. Tanya AHY dulu, dia bersedia tidak, AHY kan bukan boneka meski dia anak saya’,” kata Ferdinand menirukan perkataan SBY.

Hal itu disampaikan SBY berkali-kali setiap ada kesempatan berdiskusi. Karena setiap diskusi, Ferdinand mengatakan selalu saja ada pengurus yang menyatakan keinginannya agar AHY didorong menjadi cawapres. Dengan sikap itu, menurutnya SBY sangat menjunjung tinggi nilai demokrasi.

“Saya memberanikan diri membuka ini tanpa izin Pak SBY. Karena saya melihat ketidakbermoralan beberapa politisi yang bicara AHY digendong bapaknya sebagai politisi. Sungguh tuduhan itu tidak benar, fitnah dan kebohongan,” ujarnya.

AHY, lanjutnya, yang memutuskan kemana dia melangkah dan akan menjadi apa dalam politik ini. “Takdir yang membawa AHY dan AHY menjemput takdir. Itulah yang terjadi, bukan seperti tuduhan para politisi kerdil itu,” tambahnya.

Menurut Ferdinand, kehadiran AHY di kancah perpolitikan nasional saat ini justru menjadi pemecah kebuntuan regenerasi kepemimpinan nasional yang selama ini didominasi politikus tua era orde baru. Hal itu menurutnya tak salah karena itu kemauan AHY sendiri. Sementara SBY dalam hal ini hanya mengarahkan pilihan anaknya.

“AHY yang meminta, AHY yang melakukan. Sedangkan sang ayah menuntun jalannya. Apa yang salah? Memang itulah seharusnya kewajiban seorang ayah terhadap anaknya. SBY menuntun, memberi restu dan mendoakan, bukan menggendong dan memangku. Tapi menunjukkan jalan sukses sebagai mentor dan sebagai guru,” paparnya.

Ferdinand mengatakan, masuknya nama AHY di berbagai lembaga survei sebagai tokoh muda yang berpotensi masuk bursa cawapres merupakan harapan baru bagi masyarakat. “Itulah harapan rakyat yang tidak boleh dikhianati jika ingin mendapat kepercayaan masyarakat. Itu murni suara rakyat tanpa rekayasa,” klaimnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here