Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjabat tangan seusai melakukan pertemuan tertutup di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7)

 

Beritainternusa.com,Jakarta Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Rachland Nashidik menyatakan ingin ada pergantian presiden di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan melalui cuitan di akun Twitter miliknya @RachlanNashidik, yang diunggah pada Kamis dini hari, 26 Juli 2018 pukul 00.28 WIB.

“Saya mau ganti Presiden! Kalau demi itu saya harus bekerja sama dengan setan, saya akan lakukan. Apalagi cuma kerjasama dengan Prabowo,” demikian cuit Rachland Nashidik seperti yang dikutip.

Dalam Twitter-nya, Rachlan juga menyampaikan hubungan Demokrat dengan Jokowi.

Takdir politik sudah bicara. Jalan tertutup bagi kami pada Jokowi. Dia sendiri, dan orang-orang di sekelilingnya, yang menutup.

Kami akan berjuang sekeras-kerasnya, sebaik-baiknya, bagi pemimpin baru Indonesia dalam pemilu 2019. Bersama Gerindra, PAN dan PKS. Mohon restu,” ucap Rachland.

Dia menambahkan, Demokrat adalah rumah bagi orang-orang moderat. Tetapi, Jokowi dan orang-orang di sekelilingnya membuat partainya terpaksa mengambil sikap keras.

“Kini Demokrat adalah shelter bagi mereka yang mau ganti Presiden pada 2019. Tiba masa Indonesia memiliki pemimpin baru,” cuit dia lagi.

Sebelumnya, dalam dua kesempatan berbeda, usai bertemu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menyinggung kurang harmonisnya hubungan Demokrat dengan partai pendukung Jokowi. Menurut dia, hal itu merupakan pangkal musabab hambatan Demokrat berkoalisi mendukung Jokowi.

“Pak Jokowi juga berharap Demokrat di dalam (koalisi). Namun saya menyadari banyak sekali rintangan dan hambatan untuk koalisi itu,” ujar SBY dalam jumpa pers usai bertemu Prabowo di kediamannya Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/7/2018).

Presiden ke-6 RI itu mengatakan, untuk membangun suatu koalisi, diperlukan kesepahaman dan pandangan yang sama. Hal itulah juga menjadi hambatan partainya berkoalisi dengan Jokowi.

“Untuk berkoalisi itu perlu iklimnya baik, kesediaan untuk saling berkoalisi juga, ada mutual trust, mutual respect. Itu yang jadi hambatan sekarang ini,” jelas SBY.

Tak hanya soal visi, SBY menyoroti persoalan komunikasi yang jadi tantangannya. Yang jelas, SBY menegaskan tak punya masalah dengan Jokowi.

“Saya tidak mengatakan hambatan dengan Jokowi, tetapi ada hambatan dengan koalisi. Nah bisa ditafsirkan sendiri soal itu,” kata SBY.

Sebelumnya, usai bertemu Zulkifli Hasan, SBY secara terbuka mengungkapkan penyebab sulitnya Demokrat bergabung dengan koalisi Jokowi. Tiba-tiba saja, tanpa ditanya wartawan, SBY curhat.

Ia menuturkan beberapa kali menanyakan ke Jokowi penerimaan partai pendukung Jokowi bila Demokrat bergabung.

“Setiap bertemu Pak Jokowi, saya bertanya, apakah kalau Demokrat berada di koalisi, partai koalisi bisa terima kehadiran kami. Beliau menjawab ‘ya bisa, karena presidennya saya’. Itu terus terang merupakan pertanyaan saya,” ungkap SBY.

Di balik itu, ia rupanya masih khawatir dengan hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Karena melihat realitas hubungan Ibu Mega (Ketua Umum PDIP) dengan saya belum pulih, jadi masih ada jarak, masih ada hambatan,” kata SBY.

Hubungan keduanya merenggang sejak menjelang Pemilihan Presiden 2004. SBY yang menjabat Menko Polhukam di Kabinet Mega mengundurkan diri.

Dia kemudian maju menjadi calon presiden. Keduanya lantas bertarung di Pilpres 2004, dengan SBY keluar sebagai pemenang.

SBY berkali-kali berusaha mendinginkan hubungan dengan Megawati, termasuk dengan bantuan suami Mega, Almarhum Taufik Kiemas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here