Beritainternusa.com, JogjakartaMomen dramatik menghiasi hari kedua kegiatan pengosongan lahan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Jumat (20/7/2018).

Di hari itu pula, kemelut akuisisi lahan dan perjuangan warga menolak mageproyek itu berakhir antiklimaks dengan telah runtuhnya keseluruhan 33 rumah yang selama ini masih mereka pertahankan.

Pemrakarsa proyek NYIA, PT Angkasa Pura I (AP I) bersama kontraktornya PT Pembangunan Perumahan dengan kawalan aparat gabungan dan puluhan relawan  secara resmi telah mengakhiri tahap pengosongan lahan.

Puluhan rumah yang selama ini masih berdiri di dalam lahan dan menjadi ganjalan pekerjaan telah dirobohkan.

Termasuk juga rumah-rumah para pentolan warga penolak tersebut. Bangunan yang masih berdiri saat ini hanyalah Masjid Al Hidayah di Palihan dan sebuah musala di wilayah Glagah.

Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) itu memang sempat berupaya mempertahankan rumah yang diyakini masih menjadi hak miliknya secara sah agar tidak disentuh oleh beberapa unit backhoe yang dikerahkan dalam kegiatan itu.

Namun, perlawanan warga itu tak mampu mengimbangi kekuatan dari aparat gabungan kepolisian, militer, dan Satpol PP yang bertugas mengamankan jalannya kegiatan pembersihan lahan tersebut.

Warga yang enggan keluar dari rumah ataupun melakukan aksi bertahan terpaksa dihadapi aparat dengan tindakan tegas.

Seperti yang dialami Sumiyo, warga Pedukuhan Sidorejo, Desa Glagah.

Lelaki 53 tahun ini langsung naik ke atap rumah ketika rombongan backhoe yang dikawal ratusan aparat kemanan bergerak mengarah ke rumahnya.

Sumiyo duduk di bagian wuwung atap rumahnya dan memegang erat ancer (gastang) listrik yang juga terdapat sebuah bendera merah putih.

Aksinya ini sempat membuat repot para personel pengamanan lantaran perobohan rumah tidak bisa langsung dilakukan begitu saja.

Sumiyo berkukuh enggan turun dari atap dan tak mau melepaskan pegangannya meski petugas secara persuasif telah berusaha membujuknya.

Beberapa petugas Satpol PP kemudian berusaha mendekatinya di atas atap menggunakan bantuan sendok garuk backhoe.

Lagi-lagi, bujukan petugas tak mempan dan Sumiyo masih enggan turun.

Setelah beberapa lamanya, petugas akhirnya melakukan tindakan tegas dengan menurunkannya secara paksa.

Sumiyo dipiting oleh petugas dan kakinya diikat dengan tali lalu dimasukkan ke dalam sendok garuk backhoe untuk kemudian diturunkan.

Sumiyo terlihat lemas saat tubuhnya dibaringkan ke atas tanah depan rumahnya sendiri. Ia kemudian digotong oleh beberapa warga dan aktiis solidaritas penolakan NYIA.

Saat ditemui usai peristiwa itu, Sumiyo terlihat sedang duduk bersama sejumlah warga lain sembari menatap ke arah tanah lapang bekas rumahnya.

Ia mengaku mengalami sakit di bagian bahu, leher, sikut tangan, dan kakinya akibat kejadian itu meski tidak tampak luka sedikitpun.

“Saya dibekek dan dikencang (dipiting dan diikat), seperti hewan saja. Aparat tidak manusiawi. Saya cuma mempertahankan tinggalan orangtua supaya tidak dirampas dan dirobohkan. Apa saya salah? Ini kan namanya pembongkaran paksa,” kata Sumiyo, ditemui seusai rumahnya dirobohkan.

Juru Bicara Proyek Pembangunan NYIA PT AP I, Agus Pandu Purnama mengatakan bahwa sebanyak 33 rumah dengan 36 KK dan satu buah gudang telah dirobohkan.

Jumlah itu menjadi bagiand ari total 518 KK terdampak yang sudah dikosongkan terlebih dulu. Selanjutnya, lahan akan dirapatkan dengan pemagaran seara menyeluruh pada beberapa bagian yang selama ini belum sempat dipasang pagar.

“Dinamika kecil di lapangan saya kira hal yang wajar. Namun sekarang pengosongan lahan sudah 100 persen dan ini jadi titik awal untuk selanjutnya mengerjakan konstruksi. Mudah-mudahan April 2019 bandara ini bisa beroperasi,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here