Beritainternusa.com,Gunungkidul – Kasus bunuh diri lagi-lagi terjadi di Gunungkidul. Kali ini bertempat di Padukuhan Karanglor, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo dengan korban bernama Partorejo (80). Diduga sakit yang tidak kunjung sembuh menjadi penyebab Partorejo nekat mengakhiri hidupnya.

Ketika dikonfirmasi, Kapolsek Karangmojo, Kompol Irianto membenarkan peristiwa tersebut, korban diketahui pertama kali oleh satu diantara keluarga korban.

“Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh anggota keluarga yang hendak ke kamar mandi,” Senin (9/7/2018).

Mendengar teriakan minta tolong dari anggota keluarga warga sekitar menghampiri rumah korban, mendapat laporan dari warga Karangmojo bersama tim dari puskesmas mendatangi tempat kejadian perkara.

“Dari hasil pemeriksaan tim dari puskesmas tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, Partorejo murni meninggal dunia karena jeratan tali di lehernya,” terangnya.

Kapolsek Karangmojo mengatakan diduga Partorejo bunuh diri karena penyakit sesak nafas yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Sementara itu menurut data dari Polres Gunungkidul mencatat selama 2018 ini sudah ada 15 kasus bunuh diri termasuk kasus Partorejo.

Kasubag Polres Gunungkidul, Iptu Ngadino mengatakan, penyebab bunuh diri di Gunungkidul masih beraneka ragam, tetapi yang banyak ditemui adalah akibat sakit yang tidak kunjung sembuh.

Untuk menekan jumlah angka bunuh diri kami mengoptimalkan peran fungsi Babinkamtibmas di 144 desa,” tuturnya.

Ia menjelaskan mekanisme kerja Babinkamtibmas ialah menyambangi warga yang berpotensi bunuh diri selain warga sakit menahun babinkamtibmas ualah memonitor warga yang mengalami gangguan jiwa.

Ia mengatakan kendala saat ini yang dialami adalah masih kekurangan jumlah anggota yang mengakibatkan tidak bisa mengawasi semua warga. Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam pengawasan masyarakat, yang terpenting adalah dukungan moral,” terangnya.

Sementara itu Relawan Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji) Wage Dhagsinarga mengatakan 80 persen dari kasus bunuh diri adalah bersumber dari depresi yang dialami masyarakat.

Sejumlah permasalahan yang sering ditemui masyarakat adalah depresi, sakit menahun yangtakkunjung sembuh, perekonomian rendah,adnya konflik dengan keluarga,” tuturnya.

Sedangkan Ketua Imaji, Joko Yanu Widiasta berharap semua pihak dapat bergerak menanggulangi permasalahan bunuh diri. “Pemkab dan seluruh masyarakat harus dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat,” tuturnya.

Selain itu peningkatan jangkauan layanan kesehatan jiwa harus sampai pada tingkat Puskesmas, RS/Klinik yang ada di seluruh Kabupaten Gunungkidul.

“Upayanya dapat dilakukan dengan cara lebih peka kepada lingkungan masyarakat, Lihat, Dengar, Sambungkan ke layanan sosial atau kegamaan,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan, kasus bunuh diri bukan hanya masalah kesehatan tetapi banyak faktor penyebabnya.

Satu diantaranya dengan program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Secara teknis program RBM mengelola warganya yang depresi dan berpotensi ke perbuatan nekat hingga percobaan bunuh diri,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here