JK saat bertemu SBY.

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Pertemuan Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla (JK) menambah sinyal politik baru. Pertemuan dua tokoh besar itu dinilai sebagai appetizer (makanan pembuka) pertarungan Pilpres 2019.

Pengamat politik Denny JA menyebut ‘perang’ Pilpres 2019 baru akan benar-benar dimulai seusai Pilkada Serentak 2018 pada Rabu (27/6) besok. Saat ini fokus partai politik masih terbelah pada pilkada.

“Setelah pilkada besok, perang segera dimulai. Perang dalam membangun koalisi dan perang dalam membentuk opini. Nah, sekarang ini memang kita semakin terpolarisasi dalam dua kubu,” ujar Denny JA dalam perbincangan, Selasa (26/6/2018).

Dia menilai sebenarnya ada banyak persaingan terkait Pilpres 2019. Namun sejauh ini persaingan hanya dikategorikan pada dua kubu, yakni kelompok pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk dua periode dan kubu oposisi yang terus menyuarakan #2019GantiPresiden.

“Nah, sekarang ini di dua kubu ini masing-masing punya masalah. Di kubu Jokowi ada masalah siapakah wapresnya, siapakah cawapresnya itu,” kata dia.

Persoalan cawapres Jokowi diprediksi bisa menimbulkan masalah perpecahan. Bisa terjadi perubahan koalisi, dari partai yang sebelumnya mendukung menjadi tidak mendukung. Hal sebaliknya bisa terjadi. Bisa saja partai yang sebelumnya tidak mendukung Jokowi jadi berbalik mendukung setelah mengetahui pilihan cawapres.

“Itu hal terbesar di koalisi Jokowi karena kita memang belum bisa menyatakan partai apa dukung ini karena memang belum dimunculkan pasangan resminya,” sebut Denny.

Sementara itu, untuk kubu #2019GantiPresiden, permasalahan utamanya adalah soal siapakah capres yang akan diusung. Kubu ini tidak serta-merta menjadikan Ketum Gerindra Prabowo Subianto sebagai pimpinannya. Selain Prabowo, ada nama-nama tokoh lain yang bisa muncul di kubu ini, seperti Gatot Nurmantyo hingga Jusuf Kalla. Peran SBY menentukan di sini.

“Apakah akan muncul satu capres saja ataukah seperti DKI, dimunculkan dua capres dulu nanti di putaran dua bersatu. Nah, sekarang ini semakin memusat ke tiga capres, yaitu pertama Prabowo, Gatot, ketiga Jusuf Kalla dan memang peran SBY ini cukup besar. Bisa dikatakan dia pemain politik nomor tiga,” terang Denny.

Selain SBY, pemain politik lainnya, menurut Denny, adalah Jokowi, Prabowo, dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Manuver mereka akan menentukan arah politik ke depan.

“Empat orang inilah yang akan menentukan siapa yang menjadi capres ke depan,” ucapnya.

SBY diprediksi akan meminta bargaining kursi cawapres dari Partai Demokrat. Salah satu yang kini tengah disosialisasikan PD adalah sang Ketua Kogasma mereka yang juga putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono.

“Bagi SBY, sangat penting tampaknya wapresnya harus dari PD, tinggal jualannya apakah itu AHY, apakah itu CT. Jika capresnya militer seperti Gatot atau Prabowo, SBY susah menjual AHY. Jadi AHY paling mungkin dipasangkan jika JK capresnya, tapi jika JK tidak mau, yang muncul kemudian Gatot atau Prabowo mungkin yang dikeluarkan dari saku SBY adalah CT,” beber Denny.

“Cuma SBY berhitung juga tetap menawarkan AHY kepada Jokowi. Sebelum tahu apa yang terjadi, Indonesia lima tahun ke depan ditentukan sebulan ini, yaitu selesai Pilkada Serentak 27 Juni sampai 4 Agustus pendaftaran capres-cawapres itulah yang menentukan Indonesia lima tahun ke depan,” imbuhnya.

Untuk itu, pertemuan JK dengan SBY belum bisa dikatakan memiliki makna adanya kesepahaman. Sebab, masih ada banyak manuver untuk menuju main course (hidangan pokok) hingga dessert menuju Pilpres 2019.

“Jadi datangnya JK kepada SBY hanyalah episode dari jalan panjang yang belum tahu ujungnya. Sebulan ini jalan panjang bagaimana para pemimpin mengelola koalisi, finalnya di bulan Agustus, Juni ini warming up-nya. Itu kita sebut sebagai appetizer, main menu-nya nanti di awal Agustus. Koalisi cair, yang tidak cair hanya partai yang setia kepada Jokowi saja,” tutur Denny.

Sebelumnya diberitakan, JK bertandang ke rumah SBY dengan alasan dalam rangka silaturahmi Idul Fitri. Keduanya mengaku tak membicarakan politik dalam pertemuan tersebut.

Ndak ada,” kata JK menjawab pertanyaan wartawan.

SBY kemudian menambahi jawaban JK tersebut. Presiden RI ke-6 itu menegaskan tak ada bahasan politik dalam pertemuan keduanya.

“Kita nggak bicara politik,” imbuh SBY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here