Cap purba di gua di Maros

 

Beritainternusa.com, Maros – Jejak peradaban ribuan tahun lalu di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) perlahan mulai terungkap. Bahkan, disebut-sebut merupakan tertua di dunia dengan ditandai cap tangan purba di gua.

“Sudah masuk era neolitik. Manusia perasejarah di sini membawa pengetahuan tentang padi. Bagaimana berternak babi dan bertani,” kata Ketua Tim Arkeologi dan Prasejarah Balai Arkeologi Makassar, Budianto Hakim di lokasi ekskavasi yang berada di sekitar wilayah Goa Jarie, Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Analisis soal pengetahuan tentang cara bertanam padi ini didapatkan dari penelitian yang dinamakan analisis polen. Analisis polen menunjukkan, di dalam tanah tempat ditemukannya jejak manusia prasejarah tersebut terdapat benih padi.

“Polen kan serbuk sari dari padi. Kalau di Maros ini 8.000 tahun lalu,” ucapnya.

Pola kehidupan manusia era 4.000 tahun lalu di Sulsel disebut juga sudah mulai menetap. Mereka menggunakan teknik pertanian dengan ladang berpindah.

“Mereka menebang dan membakar. Kalau siklusnya berubah, mereka kembali ke tanah garapan awal. Sisanya ada yang berburu binatang liar, juga sudah mulai menjinakkan binatang, termasuk membudidayakan tanaman,” sambungnya.

Tim Balai Arkelogi Makassar juga menemukan kerangka manusia prasejarah yang diduga berusia 4.000 tahun. Di sekitar penemuan kerangka, juga terdapat cap tangan purba yang berusia minimal 39 ribu tahun. Inikah lukisan purba tertua di dunia?

“Usia lukisan tangan di Gua Jarie diperkirakan berusia minimum 39.900 tahun. Ini minimum ya. Ini bisa dibilang tertua di dunia,” kata Budianto.

Budianto mengatakan ini lokasi penemuan kerangka prasejarah ini berada di sekitar wilayah Goa Jarie yang berada di wilayah Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (30/5).

Usia lukisan tangan ini disebut lebih tua daripada penemuan lukisan purba di Spanyol yang berusia maksimum 40 ribu tahun lalu. Berbeda dengan di Gua Jarie ini, lukisan purba di El Castillo, Spanyol, berupa coretan merah.

“Ini adalah bagian dari peninggalan manusia purba yang sangat menarik,” terangnya.

Menariknya, lukisan tangan dan beberapa hewan seperti babi rusa dan anoa mengartikan bahwa masyarakat dulu telah mampu menangkap keadaan yang berada di lingkungannya.

“Ada juga yang bersifat sakral atau magis. Kalau cap tangan ini adalah seperti pagar magis. Ada juga barang yang ditemukan yang menandakan masyarakat purba telah mengenal fashion seperti liontin dari tulang kuskus. Kalau liontin kan menandakan bahwa mereka juga punya cara untuk membuat daya tarik kepada lawan jenis. Liontin dari kuskus ini didapatkan di Gua Buttue yang dekat dari Gua Leang-leang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here