Beritainternusa.com, Banten — Sebanyak 100 dari 270 orang warga Lebak yang terjangkit penyakit HIV/ AIDS telah meninggal dunia sepanjang tahun 2000-2018. Data tersebut berdasarkan jumlah pasien di  Seroja RSUD Adjidarmo, Rangkasbitung Lebak Banten.

“Penanggulangan penderita HIV/Aids sejak tahun 2000 terdata 270 orang. Dari 270 orang, di Seroja Adjidarmo, sebanyak 170 orang masih hidup, sebanyak 100 orang sudah meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Lebak, Maman Sukirman usai menyambut kedatangan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Banten di Pendopo Bupati Lebak, kemarin.

Selanjutnya, Maman mengaku turut menyesal atas banyaknya warga meninggal karena Aids.  Supaya tidak tejadi penambahan banyak korban, dinas terkait akan melakukan survei di wilayah Lebak.

“Supaya tidak terjadi gunung es, akan mensurvei di wilayah Kabupaten Lebak. Karena mungkin bisa lebih dari 270 orang,  untuk menyatakan hal tersebut, kita harus ada survei, insyaallah akan bekerjasama KPA Provinsi Banten dan pengurus KPA Lebak, untuk melangkah ke depan supaya segera dan tadi Kepala Bappeda mendukung sekali, agar segera menggelar pertemuan ditingkat kabupaten,” katanya.

Lebih lanjut, Maman menjelaskan, Pemkab Lebak melalui Dinas Kesehatan dalam penanggulangan HIV/Aids berupaya mengobatinya. Warga yang terjangkit ada di 28 kecamatan.

“Penyebab terjangkit HIV dan Aids akibat seksual bebas, jarum suntik, narkoba. Banyak diindikatori dari pemeriksaan rumah sakit,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Lebak Firman Rahmatullah, mengatakan  penderita HIV dan AIDS didominasi oleh laki-laki.”Dari 270 orang sebanyak 157 orang terdiri dari Lelaki dan 113 orang perempuan.”

Penjabat Bupati Lebak, Ino S Rawita mengatakan, Kepala Dinas dan Instansi di Lebak kompak dalam Penanggulangan Aids.”Mencoba mengurangi, syukur bisa menghilangkan. Kabupaten Lebak akan gelar rapat lintas sektoral sehingga apa yang dibutuhkan termasuk mungkin pertama membuat Perbup Penanggulangan Aids. Mudah-mudahan ini langkah awal manakala ini di biarkan, diam-diam nanti mengejutkan,” katanya.

Koordinator Program Pengendalian HIV Aids di Provinsi Banten Mohamad Ajis menegaskan, “upaya pencegahan gencae dilakukan karena penularan HIV Aids begitu masif.Penyebaran virus masif. Yang terjadi karena berkaitan perilaku berisiko tertular dan menularkan HIV Aids yang sebetulnya sudah melakukan berbagai upaya memecahkan fenonmena gunung es,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here